Feeds:
Tulisan
Komentar
penguji-peserta

Penguji dan Peserta Munaqasyah IIP

Latar Belakang

Organisasi merupakan sekelompok orang yang bekerjasama untuk mencapai tujuan yang sama pula. Dalam mencapai tujuannya tak jarang sebuah organisasi mengalami krisis, baik yang berasal dari dalam organisasi tersebut, maupun oleh perobahan yang muncul tiba-tiba di luar jangkauannya. Tercapai atau tidaknya tujuan tersebut dapat dilihat dari apa saja yang telah dilakukannya.

Untuk menghadapi segala kemungkinan tersebut, suatu organisasi perlu mengetahui sejauh mana kinerja organisasinya dan bagaimana meningkatkan kinerjanya atau mencoba melihat apakah organisasinya lebih baik dari organisasi sejenis lainnya, maka organisasi tersebut melakukan patokan nilai. Istilah ini merupakan terjemahan bebas dari Benchmark yang telah lama digunakan oleh kalangan bisnis dan industri. Perangkat ini ditujukan sebagai usaha untuk bertahan dari krisis dengan cara meningkatkan kualitias (Camp, 1989). Secara sederhana istilah benchmark diartikan sebagai target atau standar yang akan diukur. Foot (1998) dalam Henczel (2002) mendefenisikan benchmark sebgai suatu proses untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain – mengukur proses dan kinerja layanan yang telah diberikan secara sistematis dibandingkan dengan layanan yang diberikan orang lain yang ditujukan untuk memperoleh hasil yang terbaik.

Benchmark dianggap cocok untuk diaplikasikan pada sektor publik sehingga dapat dijadikan sebagai alat manajemen yang penting dalam total quality management (TQM). Kecendrungan penggunaan alat manajemen ini terlihat dari banyaknya organisasi yang memanfaatkannya sebagai alat untuk mengukur kinerja organisasi (Favret, 2000). Walaupun demikian, tidak semua pakar setuju bahwa alat manajemen ini cocok untuk semua jenis organisasi, seperti perpustakaan. Brockman (1992) dalam Wilson dan Town (2006) mengatakan bahwa penggunaan alat ini merupakan “Just another management fad.“

Terlepas dari pro dan kontra pemanfaatan alat ini untuk perpustakaan, benchmark dalam mengukur kualitas perpustakaan telah digunakan semenjak tahun 1990. Wilson dan Town (2006) mencoba melakukan investigasi selama empat tahun terhadap tiga perpustakaan perguruan tinggi untuk mengetahui apakah dengan menerapkan pola benchmark mampu meningkatkan kualitas layanan perpustakaan. Mereka berkesimpulan apabila alat ini digunakan secara tepat maka mampu meningkatkan kualitas perpustakaan, sebaliknya akan menjadi sia-sia apabila tidak digunakan secara tepat.

Benchmark dapat dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu internal dan eksternal. Internal benchmark adalah suatu perbandingan dari suatu kegiatan yang sama dalam organisasi, sedangkan eksternal merupakan proses membandingkan diri sendiri dengan kompetitor. Istilah membandingkan bermakna ukuran. Ukuran bisa dihitung secara kuantitaf maupun kualitatif. Dengan kata lain benchmark adalah mengukur kinerja suatu organisasi secara konsisten dan berkelanjutan.

Proses Benchmark

Untuk mengimplementasikan benchmark dengan sukses, maka harus disusun metode pengukuran yang terstruktur dengan baik. Proses benchmark biasanya didokumentasikan secara berurutan langkah demi langkah. Berikut ini Wilson dan Pitman (2000) akan menjelaskan metode yang perlu diikuti dalam menentukan benchmark dengan cara (1) kenali kebutuhan untuk perobahan, tentukan sikap dan linkup kebutuhan; (2) identifikasi apa yang akan menjadi benchmark (subjek) dan bagaimana proses akan dilakukan (pendekatan) dengan cara menentukan jasa dan proses strategik apa yang dibutuhkan oleh organisasi, seberapa puas pemakai dengan jasa yang diberikan; (3) bentuk team dan latih staf dengan cara menidentifikasi staf mana yang akan terlibat dan jasa apa yang akan diberikan; (4) lakukan analisis untuk menentukan ukuran kinerja yang akan dibuat dengan kinerja saat ini; (5) tetapkan siapa dan organisasi mana yang akan dijadikan model; (6) analisa hasil dengan cara membandingkan kinerja yang diperoleh dengan yang ditetapkan dan identifikasi perbendaannya; (7) kembagkan rencana kerja (action plans); (8) implementasi dan monitor’ dan (9) Benchmark lagi jika diperlukan.

Mengukur Kinerja Perpustakaan

Pentingnya mengukur kinerja telah lama dikenal oleh pustakawan. Kajian pertama yang pernah dilakukan oleh pustakawan secara sistematis sekitar tahun 1960an di Inggris, walaupun lebih ditujukan untuk perpustakaan umum dan perpustakaan perguruan tinggi. Namun, kajian tersebut dianggap sebagai kajian ilmiah pertama yang memberikan dasar sistematis dalam proses pengambilan keputusan (Brophy and Wynne, 1997)

Kenapa data tentang apa yang dilakukan oleh perpustakaan begitu penting dikumpulkan? Bukankah dengan mengukur kinerja akan menunjukkan buruk atau bagusnya kinerja pengelola perpustakaan itu sendiri? Ada dua tujuan utama kenapa perpustakaan mengumpulkan data tentang kegiatan yang telah dilakukannya: (a) untuk menggambarkan organisasi, dan (b) untuk melakukan evaluasi apakah organisasi telah berhasil memenuhi misi yang ditetapkannya. Kegunaan yang paling penting adalah untuk membantu manejer perpustakaan dalam mengambil keputusan lebih efektif dan efisien.

The IFLA Guidelines (1996) menyatakan bahwa pengukuruan kinerja maksudnya adalah sekumpulan data statistik dan data lainnya untuk menggambarkan kinerja perpustakaan dan menganalisis data tersebut untuk mengevaluasi kinerja. Dalam konteks ini, kinerja dipahami sebagai derajat pencapaian tujuan yang telah ditetapkan, khususnya untuk mengetahui kebutuhan pemakai. Indikator kinerja adalah pernyataan kuantifikasi yang digunakan untuk mengevaluasi dan membandingkan kinerja suatu perpustakaan dalam mencapai tujuannya. Indikator ini sangat efisien digunakan untuk mengukur jasa atau layanan perpustakaan yang diterima oleh pemakai. Indikator tersebut harus mudah digunakan, terpercaya, valid dan dapat dijadikan alat dalam pengambilan keputusan.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa indikator kinerja harus (a) tepat (valid) terhadap apa yang ingin diukur, digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tertentu dan hasil yang diperoleh harus mampu menjawab pertanyaan tersebut; (b) Terpercaya (akurat), tidak ambiguitas, tetapi bila yang diukur adalah sikap dan pandangan, maka hasilnya tidak bisa numerik; (c) Reproducible—hal yang sama harus diukur dan cara yang sama pula. Cara yang sama dapat dilakukan untuk mengukur kinerja perpustakaan yang lain pada waktu yang berbeda dan antara perpustakaan yang sejenis; (d) Bermanfaat (informatif) dalam pengambilan keputusan, mampu menginterpretasikan qualitas, kegagalan dan cara untuk meningkatkannya—harus mengacu kepada tujuan perpustakaan; dan (c)  Praktis (user friendly), mudah digunakan.

Jacoby ( 2005) mengatakan bahwa tak jarang suatu organisasi melakukan kesalahan dalam mengukur kinerjanya. Dalam banyak kasus, sering terjadi usaha untuk menutupi pencapaian kinerja yang sebenarnya. Akibatnya akar permasalahan yang dihadapi oleh perpustakaan tidak pernah muncul, sehingga strategi pengembangan perpustakaan dari tahun ke tahun tidak pernah fokus, bahkan jauh dari harapan pemakainya.

Pengelola perpustakaan sering menggadang-gadangkan jumlah koleksi yang dimilikinya. Bahkan jumlah ketersediaan koleksi sering dijadikan tolok ukur dalam menilai bagus atau tidaknya suatu perpustakaan. Padahal koleksi yang banyak belum tentu sesuai lagi dengan kebutuhan pemakai yang dari waktu ke waktu terus berkembang. Ironisnya, tekadang pustakawan sendiri tidak tahu jumlah koleksi yang dimilikinya.

”Ketidakberanian” atau ketidaktahuan atau ketidakmauan dalam mengukur kinerja perpustakaan menyebabkan tidak berkembangnya perpustakaan. Penyebabnya beragam, mulai dari ”kesibukkan” dalam melakukan pekerjaan teknis, sampai dengan ketakutan akan rendahnya kinerja yang diperoleh. Padahal dengan mengetahui kinerja tersebut, pengelola perpustakaan akan memperoleh gambaran faktor-faktor penyebab ketidak tercapaian tujuan yang hendak dicapai. Untuk itu, Jacoby (2009) memberikan langkah-langkah dalam mengevaluasi kinerja organisasi yang juga dapat diterpakan pada perpustakaan.

  1. Defeniskan dengan jelas setiap ukuran yang digunakan agar setiap orang dalam organisasi tersebut dapat mengerti apa yang sedang diukur
  2. Buat standar ukuran
  3. Tetapkan baseline dari setiap ukuran tersebut
  4. Tetapkan standar mutu perpustakaan berdasarkan standar penyelenggaraan perpustakaan yang baku
  5. Buatlah target yang hendak dicapai
  6. Diskusikan hasil secara berkala

Menetapkan ukuran

Perpustakaan yang telah dikelola dengan baik, biasanya memiliki program jangka panjang, menengah dan pendek. Rencana jangka panjang adalah “mimpi” yang tergambar dari visi perpustakaan, sedangkan jangka menengah dan pendek adalah usaha pencapaian yang dilakukan secara sistematis dan terencana yang tertuang dalam program kerja pada periode tertentu (biasanya 1 – 3 tahun).

Setiap satuan program kerja harus mengacu kepada misi perpustakaan. Program kerja yang dibuat tersebut harus dinyatakan dengan jelas dan terukur.  Untuk mengukur pencapaian maka diperlukan ukuran awal (baseline). Ukuran awal ini ditetapkan pada waktu program kerja dibuat. Misalkan, diperoleh hasil evaluasi bahwa rata-rata waktu yang dibutuhkan dalam melayani pemakai dalam meminjam koleki perpustakaan selama 15 menit. Bila rata-rata jumlah pemakai yang meminjam koleksi dalam satu hari sebanyak 25 orang sedangkan jam buka perpustakaan hanya selama 6 jam dalam satu hari maka jumlah pemakai yang terlayani adalah 24 orang, sehingga ada satu orang pemakai yang ”tidak” terlayani. Berdasarkan data tersebut maka ukuran awalnya dari rata-rata waktu peminjaman adalah 15 menit. Pertanyaannya adalah apa yang harus dilakukan oleh perpustakaan untuk mempercepat waktu peminjaman sehingga rata-rata waktu peminjaman meningkat menjadi 10 menit agar mampu  melayani semua pemakai  dalam satu hari. Ukuran waktu rata-rata 10 menit adalah tujuan yang hendak dicapai perpustakaan pada periode itu. Pengukuran dapat dilakukan pada tengah tahun (mid-term) atau pada akhir tahun. Berikut ini akan ditampilkan contoh program kerja berbasis kinerja.

TUJUAN Meningkatkan kepuasan pemakai
SASARAN Merancang layanan prima untuk memenuhi kebutuhan pemakai dalam memperoleh informasi untuk tujuan pendidikan dan penelitian
STRATEGI KUNCI Meningkatkan akses ke sumber-sumber informasi tercetak, eketronik, dan format lainnya dengan cepat, akurat dari mana saja dan kapan
AKTIVITAS
  1. Menyiapkan dokumen cetak terpilih untuk dimigrasikan ke dalam bentuk digital atau elektronik
  2. Menyiapkan sumber daya internet
  3. Meningkatkan kemampuan pemakai dalam mengakses informasi elektronis
  4. Meningkatkan keakuratan informasi yang terdapat pada katalog
INDIKATOR KINERJA Tersedianya bahan pustak digital sebanyak 200 judul

Meningkatnya jumlah pemanfaatan koleksi sebesar 10%

Meningkatnya jumlah kunjungan ke perpustakaan secara remote sebesar 10% dari total pemakai

Standar ukuran

Banyak standar ukuran yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja perpustakaan. Beberapa organisasi seperti EAL (1995), CRANFIELD, MIEL2 (1997), Van House (1990), IFLA (1996) dan ISO 11620 (1998) memberikan ukuran-ukuran yang jelas terhadap indikator yang digunakan.

IFLA (1996) dalam panduannya Measuring quality: international guidelines for performance measurement in academic libraries memberikan standar ukuran yang berorientasi pada pemakai dan keefektifan layanan yang diberikan, terutama pada perpustakaan perguruan tinggi. Tedapat 16 indikator yang digunakan untuk mengukur kinerja perpustakaan seperti berikut ini.

  • kepuasan pemakai (termasuk jasa yang digunakan secara remote);
  • umum (jam buka perpustakaan dibandingkan  dengan permintaan);
  • penyediaan dan temu kembali dokument (expert checklists, pemanfaatan koleksi,
  • Penggunaan koleksi berdasarkan subjek, dokumen yang tidak digunakan);
  • pertanyaan dan layanan referensi (rerata pertanyaan yang terjawab);
  • penelusuran informasi (penelusuran bahan pustaka yang diketahui, penelusuran subjek);
  • pengadaan dan pengolahan dokumen (pengadaan, pengolahan);
  • peminjaman dan pengembalian dokumen (waktu); dan
  • ketersediaan (proporsi dokumen yang tersedia segera sesuai dengan permintaan).

International Standards Organisation (1998) menerbitkan ISO/DIS 11620 Information and documentation—Library performance indicators yang mendata indicator-indikator yang dapat digunakan oleh berbagai jenis perpustakaan. Sebanyak 29 indikator ditujukan untuk perpustakaan tradisional dengan cakupan sebagai berikut:

  • kepuasan pemakai;
  • umum (pemanfaatan/anggaran);
  • penyediaan dokuments (ketersediaan/penggunaan);
  • penemuan kembali dokumen (kecepatan temu balik);
  • peminjaman dokumen;
  • pertanyaan dan layanan referensi (rerata pertanyaan yang terjawab dengan benar);
  • penelusuran informasi (berhasil atau tidaknya penelusuran leat catalog);
  • fasilitas (ketersediaan/penggunaan);
  • pengadaan dan pengolahan; dan
  • pengatalogan (biaya per judul).

Selain indikator tersebut di atas, perpustakaan dapat membuat indikator tambahan sesuai dengan kebutuhan masing-masing perpustakaan. Namun yang pasti bahwa indikator tersebut dapat diukur berkali-kali dengan cara yang sama.

Alat untuk mengukur kepuasan pemakai

Banyak pakar menentukan karakter kualitas organisasi perpustakaan. Misalnya konsep Servqual yang dipelopori oleh Parasuraman yang membagi menjadi lima karakteristik kualitas. Empat universitas terkemuka di Australia yang bergabung di University 21 juga memiliki karakteristik kualitas yang agak berbeda, demikian pula yang dikembangkan oleh ARL yang memodifikasi apa yang telah dilakukan oleh Parasuraman menjadi Library Quality (LibQUAL)

Secara ringkas karakteristik kualitas dan para pelopornya dapat dilihat pada gambar di bawah:

Karakteristik Kualitas Perpustakaan

Parasuraman

University 21

libQUAL

Tangible (Bukti Langsung) Fasilitas/Kelengkapan Perpustakaan sebagai tempat
Reliability (Keandalan) Kualitas Layanan Keandalan
Responsiveness

(daya tanggap)

Kualitas Layanan Pengaruh Layanan
Assurance (Jaminan) Komunikasi Akses Informasi
Emphaty (Empati) Manusia Kelengkapan Koleksi

Sumber: Surtiawan (2006)

Simpulan

Benchmark adalah jati diri perpustakaan. Untuk mengungkapakan jati diri tersebut, perpustakaan perlu melakukan evaluasi dengan cara mengukur hasil pencapaian (kinerja) yang telah dilakukan. Dengan mengetahui kinerja yang diperoleh maka perpustakaan akan mampu merencanakan pengembangan perpustakaan dengan lebih baik sehingga dapat memenuhi kebutuhan pemakai yang semakin hari semakin berkembang.

Daftar Bacaan

Brophy, Peter and Wynne, Peter M. Management Information Systems and Performance Measurement for the Electronic Library: eLib Supporting Study (MIEL2). Final Report. Lancashire: Centre for Research in Library & Information Management, 1997

Favret, Leo. Benchmarking, annual library plans and best value: the implications for public libraries. Library Management. Bradford: 2000. Vol. 21, Edisi 7; pg. 340

IFLA. Measuring quality: international guidelines for performance measurement in academic libraries, Munich, Saur, 1996.

Jacoby, David. Measuring sourcing performance: What’s the mystery?. Purchasing; Jun 2, 2005; 134, 10; ABI/INFORM Global pg. 60

Jain, Priti. Strategic human resource development in public libraries in Botswana. . Library Management. Bradford: 2005. Vol. 26, Edisi 6/7; pg. 336, 15 pgs

Surtiawan, Dwi. Kepuasan Pemakai dan Peningkatan Kualitas Berbasis Pemakai: Pendekatan Manajemen Pemasaran sebagai Paradigma Baru Perpustakaan. 2006.

Wilson, Frankie dan Town, J. Stephen. Benchmarking and library quality maturity.  Performance Measurement and Metrics. Vol. 7 No. 2, 2006 pp. 75-82

Selepas pandang

“… hari gini masih manual..? apa kata dunia…?” anekdot lepas yang diadopsi dari iklan layanan mayarakat di televisi untuk menggambarkan potret perpustakaan saat ini. Istilah manual  pada perpustakaan mengacu kepada aktivitas perpustakaan yang dilakukan hanya mengandalkan tenaga manusia, sedangkan istilah otomasi perpustakaan menyatakan bahwa pekerjaan-pekerjaan repetitif sudah digantikan oleh alat atau yang lebih dikenal dengan teknologi ingormasi, seperti komputer. Istilah ini mulai populer di Indonesia sekitar era 1990-an.

Sejauh ini, perpustakaan masih dianggap institusi yang penting dalam dunia pendidikan. Para pelajar, mahasiswa, guru, dosen, bahkan masyarakat umum memanfaatkan perpustakaan untuk menambah pengetahuannya, atau bahkan sekedar melepaskan beban pikiran dengan bacaan-bacaan ringan yang disediakan perpustakaan. Bahkan perpustakaan dapat dijadikan tolok ukur kemajuan suatu bangsa. Bila negara tersebut dikategorikan maju, maka perpustakaanya pasti maju juga dan begitu sebaliknya.

Ironis memang, ketika terjadi keterpurukkan dunia pendidikan di suatu daerah, jarang sekali perpustakaan yang disalahkan. Kalau memang perpustakaan merupakan suatu institusi yang dianggap penting, seharusnya perpustakaan bertanggung jawab penuh terhadap kemerosotan pendidikan. Sorotan para pengambilan kebijakan hanya tertumpah kepada rendahnya minat baca siswa, mahasiswa, guru, dosen, dan masyarakat, termasuk para pengambil kebijakan tersebut. Padahal minat baca tidak dapat dihubung-hubungkan dengan rendahnya kunjungan pemakai untuk memanfaatkan perpustakaan, karena minat ukurannya adalah kualitatif, sedangkan kunjungan dapat dianalisis secara kuantitatif.

Sekali lagi, tidak ada seorangpun dari pengambil kebijakan yang menyangkal bahwa perpustakaan itu tidak penting. Namun, yang perlu dipertanyakan adalah kenapa perpustakaan tidak pernah maju-maju. Ada apa dengan perpustakaan? Tulisan ini tidak bermaksud menguraikan tentang kebijakan pendidikan, tetapi lebih pada pendekatan apa yang harus dilakukan oleh pengelola perpustakaan dalam meningkatkan kualitas pendidikan di era teknologi informasi yang telah merambah berbagai sendi kehidupan masyarakat.

Kolaborasi antara perpustakaan dan teknologi informasi dalam pendidikan

Perpustakaan merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang merefleksikan perubahan yang terjadi di masyarakat. Di akhir abad ke 20, di saat teknologi elektronik mulai memasuki babak baru di paradaban manusia, maka perobahanpun mulai terjadi. Angka dan huruf digital mulai muncul di mobil, tape, termometer, dan lain-lain. Sekolah-sekolah dan perguruan tinggi mulai terbiasa menggunakan keyboard dari pada mesin tik untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan guru atau dosen. Komputer lebih sering dimanfaatkan dari pada sebelumnya. Bahkan masyarakat sudah mulai terbiasa berinteraksi dengan peralatan elektronis bahkan dengan teknologi komunikasi, seperti iPod, handphone, dan internet.

Bila pemanfaatan teknologi informasi telah menjadi bagian dari kehidupan manusia, baik secara pribadi maupun kelompok, maka pada organisasi atau lembaga tempat mereka bekerjapun telah dipengaruhi oleh teknologi ini. Perilaku masyarakat yang serba ingin cepat juga berdampak pada pola mereka dalam mencari dan memanfaatkan informasi. Salah satunya adalah mereka membutuhkan informasi yang up to date, akurat, dan terpercaya yang dapat diakses dari mana saja dan kapan saja.

Perpustakaan yang bertugas mengelola dan menyediakan informasi kepada pemakainya sepantasnya juga berkembang. Madden, Ford, dan Miller (2007) melakukan penelitian terhadap penggunaan sumber informasi oleh siswa dalam pelajaran Bahasa Inggris menunjukkan kecendrungan bahwa siswa akan termotivasi mengubah perilaku pencarian informasinya (information-seeking behaviour) apabila sumber-sumber informasi yang tersedia tidak lagi mampu menjawab kebutuhannya. Hasil penelitian yang dilakukan  oleh Haycock (2001) membuktikan bahwa kolaborasi antara guru, pustakawan dengan teknologi yang disediakan oleh perpustakaan mampu meningkatkan kemampuan siswa, bahkan pada siswa yang berlatar belakang ekonomi lemah sekalipun.

Dari hasil penelitian di atas dapat diartikan bahwa perobahan perilaku masyarakat akibat perkembangan teknologi informasi harus disikapi dengan cepat oleh perpustakaan dengan mengadopsi teknologi informasi dan komunikasi untuk memperkuat fungsi perpustakaan sebagai pusat belajar. Dalam buku pedoman penyelenggaran perpustakaan sekolah yang diterbitkan oleh IFLA/Unesco bekerjasam dengan Perpustakaan Nasional R.I. (2008) menyatakan Perpustakaan sekolah menyediakan informasi dan ide yang merupakan fondasi agar berfungsi secara baik di dalam masyarakat masa kini yang berbasis informasi dan pengetahuan. Perpustakaan sekolah merupakan sarana bagi para murid agar terampil belajar sepanjang hayat dan mampu mengembangkan daya pikir agar mereka dapat hidup sebagai warga negara yang bertanggung jawab.

Saat ini informasi dan pengetahuan telah banyak disebarkan melalui teknologi informasi. Belajar sepanjang hayat akan sangat berarti apabila informasi dan pengetahuan yang ada di perpustakaan telah dikelola sedemikian rupa sehingga dapat dipercepat penyebarannya dengan menggunakan teknologi informasi.

Memulai otomasi perpustakaan untuk menuju perpustakaan digital

Banyak cara dilakukan oleh perpustakaan untuk membangun otomasi perpustakaan. Mulai dari membeli, merancang sendiri, mengadopsi perangkat lunak khusus perpustakaan, sampai dengan memanfaatkan open source sortwarelibrary managemen system (OSS – LMS). Beberapa perpustakaan ada yang berhasil melakukan otomasi perpustakaan, namun banyak juga yang berguguran.

Banyak faktor yang menyebabkan gagalnya penerapan otomasi perpustakaan. Secara umum ada tiga faktor penyebab kegagalan implementasi otomasi perpustakaan. Pertama, perangkat lunak yang digunakan tidak bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan perpustakaan.  Pengelola perpustakaan sering ikut-ikutan menggunakan perangkat lunak perpustakaan yang digunakan oleh perpustakaan lain tanpa memperhitungkan perbedaan karakteristik dengan perpustakaan tersebut. Bila perangkat lunak tersebut dirancang sendiri, maka perpustakaan harus memahami manajemen perpustakaan dengan baik, sehingga pengembang perangkat lunak mampu memahami kebutuhan perpustakaan dengan baik.

Kalau setiap perpustakaan membeli atau mengembangkan sendiri perangkat lunak untuk otomasi perpustakaannya, maka dapat dihitung berapa jumlah uang yang dihambur-hamburkan untuk membuat perangkat lunak sejenis. Sebenarnya, pihak-pihak terkait sudah mencoba membuat perangkat lunak khusus perpustakaan untuk dimanfaatkan bersama. Namun, pengembangannya sering terhenti di tengah jalan, sehingga perpustakaan yang menggunakan software tersebut juga berhenti mengaplikasikan perangkat lunak tersebut.

Saat ini sedang marak-maraknya penggunaan OSS, termasuk pada perpustakaan. Tercatat beberapa perangkat lunak gratis yang dapat diunduh dengan mudah melalui internet, seperti Senayan, OtomigenX, OpenBiblio, Koha, dll. Dari sekian banyak OSS yang beredar, Senayan merupakan perangkat lunak yang banyak mendapat perhatian dari pemerhati perpustakaan. Perangkat lunak ini dikembangkan oleh Departemen Pendidikan Nasional yang secara berkala diupdate oleh pengembang berdasarkan masukan dari para pengguna Senayan di seluruh Indonesia. Perangkat lunak ini dikembangkan berbasis web, sehingga peralihan dari otomasi ke perpustakaan digital dapat dilakukan dengan serentak.

Karena prinsip dasar OSS adalah dikembangkan untuk umum, maka belum tentu perangkat lunak tersebut sesuai dengan kebutuhan perpustakaan. Agar sesuai dengan kebutuhan perpustakaan, sebaiknya beberapa perpustakaan sejenis berkolaborasi untuk mendasain ulang perangkat lunak tersebut sehingga sesuai dengan kebutuhan perpustakaan dengan biaya relatif lebih murah.

Kedua, terbatasnya pengetahuan staf terhadap dalam menggunakan perangkat lunak dan perangkat keras. Penguasaan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi merupakan harga mutlak untuk dipahami oleh pustakawan. Teknologi adalah alat untuk mencapai tujuan. Apabila tujuannya adalah untuk menyediakan akses ke informasi agar dapat ditemukan secara efektif dan efisien, maka cara memanfaatkan teknologi tersebut juga harus diketahui oleh pemakai. Pengetahuan terhadap sumber-sumber informasi menjadi bagian dari pekerjaan rutin pustakawan, dan pemakai harus mengetahui bagaimana memanfaatkan sumber-sumber informasi tersebut. Setiap pustakawan harus mampu memahami rencana strategis yang dikembangkan oleh perpustakaan. Selanjutnya, pustakawan harus mampu memahami perilaku pemakainya. Dengan kata lain, selain pustakawan mampu memanfaatkan teknologi informasi dan komuikasi tersebut, pustakawan juga harus mampu melatih pemakai untuk memanfaatkan jasa perpustakaan dengan media tersebut.

Urs (2002) dalam Aqili dan Moghaddam (2007) dengan rinci menggambarkan bidang, tugas dan syarat keahlian dan pengetahuan yang mutlak dimiliki oleh pustakawan di era teknologi informasi dan komunikasi. Menurutnya, pustakawan harus memiliki pengetahuan dalam bidang kajian pemakai informasi, sumber-sumber informasi, penambahan nilai informasi, teknologi informasi, dan manajemen. Kompetensi inilah yang mutlak dimiliki oleh pustakawan di era teknologi informasi.

Menyikapi padangan Urs di atas dapat disimpulkan bahwa perpustakaan memang harus dikelola oleh orang yang memiliki pengetahuan terhadap ilmu informasi dan perpustakaan, bukan oleh mereka yang “dipaksa atau terpaksa” bekerja di perpustakaan. Pustakawan menurut Undang-undang Perpustakaan No. 43 Tahun 2007 seperti tertuang pada Pasal 1 adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan. Selanjutnya pada Pasal 29 ayat 3 menyebutkan:

“Pustakawan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi kualifikasi sesuai dengan standar nasional perpustakaan.”

Secara nyata terlihat bahwa pengambil kebijakan sudah seharusnya mulai “mempekerjakan” mereka yang memiliki kualifikasi sebagaimana diamanatkan oleh undang-undang tersebut. Di sisi lain, amanat tersebut merupakan peluang dan sekaligus tantangan bagi lulusan jurusan atau program studi ilmu informasi dan perpustakaan. Sulistyo-Basuki (2007) mengatakan bahwa lebih dari tujuh ribu sekolah di Indonesia membutuhkan pofesi pustakawan.

Ketiga, perangkat teknologi informasi membutuhkan perawatan, bahkan pada perangkat tertentu perlu diperbaharui karena tidak lagi didukung dengan suku cadang di pasaran. Seringkali perpustakaan lalai dalam memasukkan aspek perawatan peralatan teknologi informasi dan komunikasi pada perencanaan tahunnya. Secara umum, biaya yang harus dialokasikan untuk perawatan peralatan tersebut lebih kurang sebesar 10% dari investasi.

Simpulan

Penggunaan teknologi informasi bukan dimaksudkan untuk menggantikan pekerjaan pustakawan, melainkan untuk mempercepat proses pekerjaan sehingga pustakawan dapat melakukan pekerjaan lain yang lebih berorientasi pada pemberian jasa informasi kepada perpustakaan. Informasi tersebut akan sangat bermakna bagi pemakai apabila informasi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan mereka dan dapat mereka akses dari mana saja, kapan saja, dan melalui saluran apa saja.

Perpustakaan sebaiknya membiasakan diri telebih dahulu dengan otomasi perpustakaan sebelum menuju ke perpustakaan digital. Otomasi perpustakaan lebih pada percepatan in house activities, sedangkan perpustakaan digital pada nilai kolaborasinya. Ketika segala aspek perpustakaan telah siap, dan penggunaan teknologi informasi telah berkembang penggunaannya di lembaga induk, maka era digital di perpustakaan menjadi kepatutan.

Daftar Pustaka

Aqili, Seyed Vahid dan Alireza Isfandyari Moghaddam. (2008). Bridging the Digital Devide: The Role of Librarians and Information Professionals in Third Millennium. The Electronic Library; 20, 2, pg 226-237.

Haycock, Ken. (2001). Staff and Resources, Plus Best Practice, Affect Student Performance. Teacher Librarian; Dec; 29, 2; Academic Research Library. pg. 28

IFLA/UNESCO. Pedoman Perpustakaan Sekolah. http://www.ifla.org/VII/s11/pubs/school-guidelines.htm (diakses pada tanggal 26 April 2008)

Lance, Keith Curry. (2001). Proof of the power: Quality library media programs affect academic achievemen. MultiMedia Schools; Sep 2001; 8, 4; Academic Research Library. pg. 14

Madden, Andrew D.; Ford, Nigel J. and Miller, David. (2007). Information resources used by children at an English Secondary school: Perceived and actual levels of usefulness. Journal of Documentation. Vol. 63 No. 3, pp. 340-358

Sannwald, William W. (2007). Designing Libraries for Customers. Library Administration & Management; Summer; 21, 3; Academic Research Library. pg. 131

Saunders, Laverna M. (1999). The human element in the virtual library. Library Trends; Spring 1999; 47, 4; Academic Research Library. pg. 771


* Disampaikan pada Seminar Nasional Kebijakan Pengembangan Pendidikan Menghadapi Era Globalisasi dalam rangka Dies Natalis Universitas Lancang Kuning XXVII pada hari Jum’at 05 Juni 2009

Istilah otomasi perpustakaan mulai populer di Indonesia sekitar 1990-an. Walaupun saat ini paradigma tersebut mulai bergeser kearah perpustakaan elektronik (e-library) atau perpustakaan digital, tetapi konsep ini masih tetap “nyaring” didengungkan oleh pemula paham teknologi informasi. Beberapa perpustakaan perguruan tinggi telah lebih dahulu memanfaatkan tenologi ini. Bahkan telah dimulai semenjak tahun 1990-an. Selain dari kecukupan dana untuk membangun otomasi perpustakaan, perhatian pemerintah (Departemen Pendidikan) terhadap pengembangan otomasi perpustakaan juga relatif lebih besar. “Keberuntungan” ini memang lebih banyak diterima oleh perpustakaan perguruan tinggi, terutama perguruan tinggi negeri. Tercatat beberapa kali perpustakaan perguruan tinggi negeri memperoleh bantuan software otomasi untuk meningkatkan layanan perpustakaan. Hampir sama halnya dengan perguruan tinggi, Perpustakaan Nasional juga beberapa kali menyediakan fasilitas software gratis kepada jaringan perpustakaannya. Bahkan setelah gagal beberapa kali, Perpustakaan Nasional tidak pernah patah arang untuk menyediakan software gratis untuk jaringan perpustakaannya. Namun seiring berjalannya waktu, pengelola perpustakaan mulai frustasi dalam memanfaatkan sistem otomasi perpustakaan yang telah mereka bangun. Kegalauan ini muncul antara lain akibat dari kegagalan sistem informasi (software), terutama menyangkut purna jual. Dari sinilah muncul stigma bahwa software “gratis” cendrung bermasalah. Konsep gratis disini sebenarnya bukan absolut. Pemerintah dalam hal ini Departemen Pendidikan dan Perpustakaan Nasional membeli software dari suatu vendor, kemudian didistribusikan kepada perpustakaan di bawah jaringannya. Namun, bagaimana dengan perpustakaan lain, seperti perpustakaan sekolah, perpustakaan umum, dan beberapa perpustakaan perguruan tinggi yang tidak memiliki cukup biaya untuk membangun otomasi perpustakaan? Apakah dalam era teknologi informasi ini, mereka masih tetap bertahan dengan sistem tradisional? Saat ini telah terbuka kesempatan bagi perpustakaan yang memiliki keterbatasan dana dalam membangun otomasi perpustakaan, yaitu Open Source Software (OSS). Untuk itu, pada kesempatan ini akan dibahas seputar pemanfaatan OSS untuk perpustakaan. Apa itu Open Source? Secara gamblang open source dapat diartikan sebagai free software (bebas mendownload, bebas untuk digunakan, dan bebas untuk dilihat dan dimodifikasi. OSS adalah software yang menyediakan kode sumbernya (source code) dan dapat dimanfaatkan tanpa perlu mengeluarkan biaya. Selain itu, software tersebut dapat didistribusikan lagi tanpa ada diskriminasi. Hampir semua OSS didistribusikan melalui web dan tanpa perlu menandatangani persetujuan lisensi. Gerakan OSS telah dimulai pada tahun 1980an. Kemudian pada tahun 1998 beridiri organisasi Open Source Initiative (OSI). OSI bertujuan untuk memperoleh dukungan untuk OSS, artinya software tersebut juga menyediakan kode sumber seperti program (binary) yang sudah dapat dijalankan. OSI tidak menyediakan lisensi khusus, tapi mendukung berbagai macam tipe lisensi open source yang ada. Tujuan OSI adalah untuk merangkul perusahaan berbasis open source, perusahaan tersebut dapat menentukan sendiri bentuk lisensi open source yang mereka inginkan dan lisensi tersebut disahkan oleh OSI. Menurut Bimagets (2009:1) bahwa banyak perusahaan yang ingin me-release source code -nya tapi tidak ingin menggunakan lisensi GPL, mereka menawarkan lisensi sendiri yang telah disetujui oleh OSI. Software yang memiliki lisensi di bawah lisensi open source atau yang lebih dikenal dengan General Public Licences (GPL) dapat dikembangkan oleh masyarakat pengembang software di seluruh dunia yang bertujuan untuk meningkatkan keunggulan software tersebut dan memperbaiki kegagalan software (bug fixes). Sebagai contoh software Linux (www.linuxfoundation.org), semenjak tahun 2005 telah lebih dari 3700 pengembang yang telah memberikan kontribusinya pada proyek tersebut (Schneider, 2008:1). OSS tidak sama dengan “public domain” software (milik maysarakat). Hak cipta masih melekat pada software tersebut, dan masyarakat tidak bisa mengklaim bahwa software tersebut tidak memiliki hak cipta (Library Technology Reports, 2008:6). Perlu diingat GPL juga tidak mengatur apapun tentang harga. Meskipun terdengar aneh, namun orang dapat menjual Free Software. Maksudnya ‘free’ adalah kita memiliki kebebasan untuk melakukan segala sesuatu terhadap source code program tersebut, tapi tidak dalam hal ‘free’ harga (hal ini tergantung dari para developer, meskipun developer telah menjual atau bahkan memberikan software GPL, developer juga berkewajiban untuk memberikan source code nya juga) (Bimagets, 2009:1). Terkadang beberapa perusahaan yang menyediakan OSS tidak selalu bebas dari biaya. Biasanya mereka menawarkan layanan tambahan yang mengisyarakatkan pula biaya tambahan. Menurut Chudnov (2009:22) bahwa free software bukanlah tentang biaya, dan bukan tentang propaganda, dan bukan tentang memangkas bisnis vendor, tetapi ini tentang kebebasan. Kebebasan yang dimaksud adalah bebas untuk menggunakan, bebas untuk mempelajari, bebas untuk memodifikasi, dan bebas untuk menyalin (GULA ASIN). Prinsip dasarnya adalah sbb:

1. Bebas menjalan program tersebut untuk tujuan apa saja
2. Bebas mengkaji bagaimana program tersebut bekerja, dan mengadaptasinya sesuai dengan kebutuhan
3. Bebas mendistribusikan salinannya kembali untuk membantu pengguna lainnya
4. Bebas untuk mengembangkan program tersebut dan merilisnya ke publik Lebih lanjut dapat dilihat pada www.fsf.org/licensing dan http://open source.org/licenses. Plus minus OSS Pengembangan software berbasiskan open source selain memberikan beberapa keuntungan, terutama menyakangkut harga (Corrado, 2006:2), tetapi juga memiliki kelemahan. Hariyanto (2001:3) menemukan beberapa permasalahan seputar OSS, antara lain bahwa adakalanya proyek software tidak dapat terlaksana karena semakin banyakanya perbedaan pendapat dalam pengembangan software tersebut. Bahkan tak jarang terjadi konflik. Mereka berdebat tentang hal-hal yang tidak berguna. Hal ini tentu saja akan sangat merugikan karena perdebatan tersebut tidak akan menghasilkan apa-apa. Bilamana hal ini telah terjadi dapat mengakibatkan tertundanya proyek yang sedang mereka kerjakan, bahkan tidak tertutup kemungkinan proyek tersebut menjadi gagal. Jika seorang pengembang merasa tidak puas dengan para pengembang lain dalam membuat suatu proyek, maka ia dapat berpisah dan mengeluarkan proyek baru, Oleh karenanya diperlukan seorang pemimpin yang mampu bekerja sama dengan rekan-rekannya yang lain untuk membuat suatu arahan yang jelas tentang proyek. Namun penunjukan seorang pemimpin terkadang juga mengandung resiko. Proyek-proyek open source biasanya dimulai oleh satu atau beberapa orang, sehingga ketergantungan menjadi sangat tinggi. Dengan berlalunya waktu, para pemimpin tersebut mungkin menjadi bosan, burn-out, dipekerjakan oleh organisasi lain. Akibatnya proyek-proyek yang mereka tangani dapat menjadi tertunda atau bahkan mungkin hilang. Sebagai contoh dua orang pembuat aplikasi GIMP, aplikasi open source untuk image editing seperti Adobe Photoshop, setelah mereka lulus dari Universitas California di Berkeley dan bekerja di organisasi lain, maka aplikasi GIMP yang mereka tulis sewaktu masih menjadi mahasiswa tertunda selama dua tahun pada saat versi 0.9, sebelum akhirnya diteruskan oleh para pengembang baru lain. Lebih lanjut Heryanto mengatakan bahwa umumnya software-software yang dikembangkan disebabkan karena menarik minat pengembang baik secara langsung maupun tidak langsung. Dengan adanya kecendrungan model open source yang dimulai oleh seorang individu maka pengembangannya akan lebih bersifat developer oriented, yang berarti software yang lebih kompleks, namun belum tentu lebih bermanfaat. Pengembang akan membuat software-software yang terlihat menyenangkan, seperti membuat themes untuk GNOME, KDE maupun editor, dibandingkan dengan membuat aplikasi-aplikasi yang dianggap membosankan seperti Office Suites. Tanpa adanya insentif lain maka akan banyak proyek mati karena pengembang awal telah kehilangan minat dan tidak ada yang meneruskan. Sama halnya dengan pendapat di atas, Mustafa (2009:1) juga membandingkan antara kekuatan dan kelemahan OSS, seperti terlihat pada tabel berikut ini. Kekuatan FOSS Kelemahan FOSS Banyak tenaga programmer yang terlibat mengerjakannya sehingga hasilnya terjamin. Masalah yang timbul berkaitan dengan intelectual property atau masalah pelaggaran hak cipta Adanya peer review meningkatkan kualitas software Para hacker justru akan memanfaatkan keterbukaan kode program dalam melakukan hal-hal yang dapat merugikan pengguna aplikasi Masa depan software lebih terjamin. Tidak ada ketakutan akan kehilangan programmer yang akan melanjutkan pengembangan dan pemeliharaan program Sejumlah bukti menunjukkan model pengembangan free open source software justru membutuhkan dana yang besar dan waktu yang lama dalam implementasinya Kesalahan (bugs) lebih cepat ditemukan Tidak banyak SDM yang dapat memanfaatkan program secara optimal Terbentuknya banyak pilihan dan “rasa”. Fleksibilitas tinggi karena banyak pilihan Pengalaman menunjukkan bahwa para pengembang yang mengakses kode program cenderung hanya mengubahnya untuk kepentingan sendiri dari pada menganalisis kelemahan dan memperbaikinya untuk kepentingan orang banyak Tidak harus mengulangi pekerjaan yang sudah dilakukan programmer lain (prinsip reuse) Beberapa jenis dan versi hardware sering tidak dikenali Relatif bebas dari gangguan virus yang sering menjengkelkan Tidak ada perorangan atau lembaga yang bertang-gungjawab khusus dalam memelihara sistem Tabel 1. Keunggulan dan kelemahan OSS Rahardjo (2004:3) mencoba membandingkan pro dan kontra penggunaan software dengan kode tertutup dan kode terbuka. Berikut ini akan dipaparkan hasil perbandingan tersebut. Pro Kontra Langsung pakai, tidak perlu pusing mengembangkan lagi Mahal Adanya support dari pembuat software. Institusi tidak memiliki SDM untuk melakukan support. Ketergantungan kepada pembuat software. Terima apa adanya dari vendor. Bagaimana jika mereka gulung tikar? Tidak dapat memperbaiki sendiri jika ada masalah Hanya ada satu produk yang perlu dikuasai. GUI konsisten. Training menjadi lebih sederhana. Monoculture (kultur tunggal) berbahaya untuk keamanan. Jika ada masalah (misal virus) maka semua kena dan menunggu solusi dari vendor. (Bagaimana kalau vendor lambat memberikan solusi?) Dikarenakan tidak dapat dikembangkan sendiri, tidak ada jaminan bahwa sistem tidak dimasuki kuda troya (trojan horse) sehingga kurang disukai untuk sistem yang bersifat rahasia. Tabel 2. Penggunaan software closed source Pro Kontra Bisa diubah, dimodifikasi, diperbaiki sendiri. Feature yang dibutuhkan bisa ditambahkan sendiri bila pengembang tidak bersedia. Kadang-kadang tidak bisa langsung dipakai dan harus “dioprek” dulu. Membutuhkan SDM yang bisa melakukan utak-atik. Umumnya murah atau gratis Kadang-kadang tidak memiliki support yang dapat bertanggung jawab. Meski demikian ada komunitas yang dapat dimintai bantuan. Cream of the crop. Software merupakan yang terbaik di bidangnya. Banyaknya software yang harus dipelajari yang kadang-kadang berbeda-beda cara penggunaannya. (GUI tidak konsisten.) Training menjadi merepotkan. Interoperability juga bisa dipertanyakan. Jika software tidak dioprek, untuk apa menggunakan open source? Tabel 3. Penggunaan software open source Terlepas dari kelemahan, pro dan kontra OSS yang perlu disikapi adalah bahwa OSS merupakan pilihan yang bijak bagi perpustakaan yang memiliki keterbatasan biaya. Pemanfaatan OSS untuk Sistem Informasi Perpustakaan Ketika suatu perpustakaan berencana membangun otomasi perpustakaan, yang perlu dibangun adalah kesadaran bahwa otomasi bukanlah masalah besar. Secara gamblang Hakim (2008:14) berpendapat bahwa apabila pengelola perpustakaan sekolah atau pimpinan sekolah memiliki pengetahuan tentang komputerisasi perpustakaan, maka mereka akan menyadari bahwa komputerisasi perpustakaan bukanlah hal yang sulit dan mahal. Hanya dengan sebuah komputer, perpustakaan sudah dapat membangun otomasi perpustakaan. Selain bertindak sebagai alat untuk menginput data, dan alat telusur (OPAC), komputer tersebut juga berfungsi sebagai server. Namun sebaiknya, perpustakaan minimal memiliki dua unit komputer. Selanjutnya adalah ketersediaan software aplikasi untuk otomasi perpustakaan. Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa saat ini telah banyak beredar Sistem Informasi Perpustakaan yang bebas pakai. Perangkat lunak yang dapat digunakan gratis untuk membangun sistem informasi perpustakaan, antara lain Athenaeum Light, OpenBiblio, PhpMyLibrary, Otomigen-X, X-igloo, Sanayan, dan lain-lain. Namun sebelum memulai memanfaatkan OSS tersebut, yang perlu dipertimbangkan adalah apakah perpustakaan hanya akan merencanakan untuk otomasi saja atau direncanakan untuk perpustakaan elektronik atau digital? Dalam bahasa sederhana apakah berbasis web sehingga pemakai dapat mengakses koleksi perpustakaan via internet atau tidak? Athenaeum yang dirilis oleh Light Sumware Consulting, New Zealand (dimodifikasi oleh Didik Witono) adalah pilihan yang baik apabila suatu perpustakaan hanya berencana untuk otomasi saja. Tercatat beberapa perpustakaan telah memanfaatkan software ini, seperti Perpustakaan Universitas Paramadina, Perpustakaan LSM dan Pribadi, Perpustakaan Umum Kebumen, dan beberapa perpustakaan sekolah. Fitur yang ditawarkan cukup komplet untuk ukuran software yang gratis, mulai dari fasilitas input data bibliografi, penelusuran, sampai pada peminjaman, pengembalian yang didukung oleh barcode, dan laporan. Selain itu, software ini juga menyediakan fasilitas administrasi yang berfungsi untuk merubah beberapa setting seperti memasukkan data organisasi, memasukkan nama administrator, merubah setting athenaeum menjadi multi-user, menetapkan jumlah maksimal buku yang dapat dipinjam, membuat batasan masa atau waktu peminjam dan juga merubah default kertas yang akan dicetak. Athenaeum Light juga menyediakan fasilitas untuk membuat barcode yang berfungsi untuk memudahkan pengelola perpustakaan/taman bacaan dalam melakukan transaksi peminjaman, pengembalian dan juga perpanjangan buku. Untuk membuat barcode yang diperlukan adalah meng-install font barcode terlebih dahulu ke komputer. Gambar 1. Tampilan Depan Athenaeum Light Saat ini, beberapa perpustakaan sudah mulai mengembangkan perpustakaannya ke arah perpustakaan elektronik berbasis web. Ide dasarnya adalah untuk memudahkan pemakai memanfaatkan jasa perputakaan dari mana saja dan kapan saja. Pemakai tidak saja dimanjakan dengan kemudahan akses, tetapi juga dapat membaca, mendengarkan, menonton, bahkan mengunduh media tertentu secara online. Software OtomigenX, OpenBiblio, dan Senayan adalah beberapa contoh OSS berbasis web. Untuk menjalankan software tersebut, terlebih dahulu harus menginstal web server, seperti apache (www.apache.org), atau apachefriends, seperti XAMPP, dan WAMP yang dapat diunduh pada http://www.sourceforge.net/. Berikut ini contoh gambar web server yang menggunakan XAMPP. Gambar 2. Control Panel XAMPP Web server digunakan untuk menguji atau menjalan software berbasis web secara lokal (seolah-olah sedang browsing di internet). Dengan demikian, software tersebut sudah dapat dijalan melalui jaringan lokal (LAN) atau intranet. Untuk menguji apakah web server sudah berjalan dengan benar atau tidak, dapat dilakukan dengan membuka browser (firefox, Internet explorer, opera, dll) dengan mengetikan http://localhost/phpmyadmin/. Apabila muncul seperti gambar di bawah ini, maka web server tersebut sudah dapat menjalankan program aplikasi yang akan digunakan. Gambar 3. Tampilan phpMyadmin Langkah selanjutnya adalah menginstal program aplikasinya. Untuk itu, memang disarankan dilakukan oleh mereka yang memahami dasar-dasar pemograman, terutama bahasa program yang digunakan oleh software tersebut, misalnya PHP. Beberapa software terkadang tidak menyediakan fasilitas installer. Pengguna harus mengedit beberapa file utama dari program tersebut secara manual. Biasanya file-file utama yang harus diedit tersebut adalah config.php, db.php, dan settings.php. Setelah itu, membuat database pada kolom “ciptakan database baru.” Kemudian salin database software yang akan digunakan tersebut (biasanya berekstensi *.txt yang dapat dibaca dengan notepad) ke toolbar SQL. Secara otomatis tabel-tabel akan terbentuk dan siap digunakan. Apabila, setingan telah diubah dan database sudah jalan, maka otomasi perpustakaan sudah dapat dijalankan. Sebelum itu, sangat dianjurkan membaca manual atau pedoman penggunaan software tersebut. Berikut ini akan diperlihatkan tampilan depan dan ruang administrasi dari software OpenBiblio, OtomigenX, dan Senayan. Gambar 4. Tampilan OPAC OtomigenX Gambar 5. Tampilan Ruang Administrator OtomigenX OpenBiblio merupakan salah satu Library Software yang ‘free’ dengan lisensi GNU/GPL. Walaupun ”free‘, OpenBiblio cukup handal dengan modul yang lengkap seperti modul penelusuran (Online Public Access Catalog = OPAC), sirkulasi, cataloging, reports dan admin, mendukung LAN dan juga nomor barcode. Dan yang tak kalah penting adalah struktur database OpenBiblio sesuai dengan standar perpustakaan yang dikenal dengan format MARC (Machine Readable Catalog). Software opensource (perangkat lunak bebas) ini dikembangkan oleh seorang programmer bernama Dave Stevens. OpenBiblio dijalankan bersamaan dengan software – software lain, yang juga opensource, yaitu Apache – MySQL – Php (AMP Applications). Gambar 6. Tampilan OPAC OpenBiblio Gambar 7. Tampilan Ruang Administrator OpenBiblio Senayan adalah OSS yang sedang marak diperbincangkan oleh orang-orang di dunia perpustakaan karena perangkat lunak ini dirasa memiliki fasilitas paling komplet di antara aplikasi berbasis free open source yang pernah ada. Software ini dikembangkan dari software Alice yang digunakan oleh Perpustakaan British Council. Senayan merupakan aplikasi berbasis web dengan pertimbangan cross-platform. Sepenuhnya dikembangkan menggunakan Software Open Source yaitu: PHP Web Scripting Language, (www.php.net) dan MySQL Database Server (www.mysql.com). Untuk meningkatkan interaktitas agar bisa tampil seperti aplikasi desktop, juga digunakan teknologi AJAX (Asynchronous JavaScript and XML). Senayan juga menggunakan Software Open Source untuk menambah fittur seperti PhpThumb dan Simbio (development platform yang dikembangkan dari proyek Igloo). Karena pengembangan senayan dibiayai dengan dana dari APBN maka sudah sepantasnya semua rakyat Indonesia bisa memperolehnya secara bebas. Untuk itu Senayan dilisensikan dibawah GPLv3 yang menjamin kebebasan dalam mendapatkan, memodi_kasi dan mendistribusikan kembali (rights to use, study, copy, modify, and redistribute computer programs). Gambar 8. Tampilan OPAC Senayan 3.9 Gambar 9. Tampilan Ruang Administrator Senayan 3.9 Simpulan Dengan segala keunggulan dan kelemahan OSS, para pengelola perpustakaan patut bersyukur bahwa sekarang telah banyak hadir software “bebas” yang dapat dengan mudah diperoleh melalui internet. Perlu disadari bahwa OSS dikembangkan bukan untuk individu, melainkan untuk kepentingan bersama. Untuk itu, semua pihak yang berkepentingan dalam pemanfaatan software perpustakaan harus mendorong dan pro aktif mengembangkan OSS ini. Dengan harapan bahwa perpustakaan berperan aktif dalam memajukan pendidikan di Indonesia. *) Terima kasih kepada para pengembang OSS Perpustakaan, terutama kepada Pengembang OSS Senayan.

Daftar Pustaka

Bimagets. Sekilas Tentang Open Source. [Online]. Dapat diakses pada: http://bimagets.wordpress.com/2009/05/13/ngecat-konsole-bisa-g-ya/. [Diakses pada tanggal 14 Me1 2009]

Breeding, Marshall . Opening Up Library Automation Software. Computers in Libraries. Westport: Feb 2009. Vol. 29, Edisi 2; pg. 25, 3 pgs

Chudnov, Daniel . What Librarians Still Don’t Know About Free Software. Computers in Libraries. Westport: Feb 2009. Vol. 29, Edisi 2; pg. 22, 3 pgs

Computers, Networks & Communications. OpenLiberty.org; OpenLiberty.org Releases Open Source Code for Driving Security and Privacy Into Web Services and Web 2.0 Applications. Laporan. Atlanta: Mar 17, 2008. pg. 735

Corrado, Edward M. The Importance of Open Access, Open Source, and Open Standards for Libraries. [Online]. Dapat diakses pada: http://www.istl.org/05-spring/article2.html [Diakses pada tanggal 3 Maret 2009].

Hakim, Heri Abi Burachman. Komputerisasi Perpustakaan dengan Murah. Kompas. Rabu, 11 Juni 2008.

Heriyanto Tedi. Pengembangan Software Berbasiskan Open Source di Indonesia. (edisi revisi). tedi.heriyanto.net/papers/pengembangan.html. 8 Mei 2001

Library Technology Reports. Open Source Library Automation: Overview and Perspective. Laporan. Chicago: Nov/Dec 2008. Vol. 44, Edisi 8; pg. 5, 6 pgs

Rahardjo Budi. Pemanfaatan Teknologi Informasi di Perguruan Tinggi. budi2.insan.co.id/articles/IT-usage-at-university.doc. 2004 Schneider, Karen . Free for All. School Library Journal. New York: Aug 2008. Vol. 54, Edisi 8; pg. 44, 1 pgs

Pendahuluan

Dalam makalah ini saya memulai dengan bermacam istilah yang digunakan oleh pakar perpustakaan dan informasi untuk menggambarkan suatu perpustakaan. Istilah-istilah yang muncul tersebut antara lain, perpustakaan konvensional atau tradisional (conventional/ traditional library), perpustakaan elektronik (electronic library), perpustakaan digital (digital library), perpustakaan hibrida (hybrid library), dan perpustakaan maya (virtual library). Di antara istilah tersebut yang paling sering didengung-dengungkan adalah perpustakaan elektronik dan perpustakaan digital. Dalam beberapa pertemuan yang pernah saya ikuti, baik nasional maupun daerah, baik secara personal maupun lembaga, istilah perpustakaan elektronik selalu menjadi isu utama diskusi. Bahkan sering suatu diskusi menjadi membingungkan, ketika konsep otomasi perpustakaan melebar menjadi konsep perpustakaan elektronik. Terkadang, diskusi-diskusi sering tidak diakhiri dengan kesimpulan yang memuaskan tetang konsep perpustakaan elektronik. Pada kesempatan ini saya mencoba kembali mendiskusikan apa sebenarnya yang kita inginkan dari penerapan teknologi informasi untuk perpustakaan? Benarkah kita telah siap untuk mengembangkan perpustakaan elektronik, atau apakah pemakai kita telah menghendaki perpustakaan elektronik tsb?

Mencari konsep sebenarnya

Kita percaya bahwa saat ini adalah era teknologi informasi (TI). Kita selalu berlomba untuk menerapkan TI untuk berbagai bidang yang kita tekuni, termasuk perpustakaan. Dulunya, kita sudah bangga dengan penerapan otomasi pada perpustakaan kita. Secara perlahan kebanggan tersebut bergeser seiring berkembangnya TI. Namun, sudah seberapa banyak perpustakaan di Sumatera Barat ini yang telah mencoba mengaplikasikan otomasi untuk perpustakaannya? Jawabannya masih dalam hitung-hitungan belaka. Belum ada kajian yang jelas. Tetapi, kebanyakan yang telah mencoba (walau masih Trial & Error) adalah perpustakaan perguruan tinggi, dan Perpustakaan Daerah sendiri. Ada banyak pertimbangan untuk menerapkan TI untuk perpustakaan. Selain ketersediaan dana, kesiapan staf, dan pengetahuan awal terhadap aplikasi TI untuk perpustakaan masih menjadi keraguan. Walau demikian, kita para pustakawan atau yang bekerja di perpustakaan selalu dituntut untuk memberikan jasa yang terbaik untuk pemakainya. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan TI untuk “menyemarakkan” jasa perpustakaan. Eforia perpustakaan elektronik telah menggugah para pustakawan untuk mengaplikasikannya. Kita bisa membayangkan betapa ringan dan mudahnya pekerjaan pustakawan apabila menerapkannya. Tetapi, terkadang kita sendiri masih sulit berpikir untuk memulainya dari mana. Pertanyaannya adalah apa yang seharusnya kita lakukan untuk mewujudkan perpustakaan elektronik tersebut? Perpustakaan elektronik menurut Pinfield (2001) adalah perpustakaan yang menyediakan koleksi dan sumber-sumber informasi dalam bentuk digital atau jaringan digital yang digunakan untuk kegiatan teknis dan infrastruktur manajerial, termasuk data atau metadata dalam berbagai format yang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan pemakai. Lebih lanjut dijelaskan bahwa penerapan perpustakaan elektronik membawa implikasi terhadap staf perpustakaan sendiri. Berikut ini dijelaskan peran dan keahlian yang dibutuhkan pustakawan perpustakaan elektronik.

Peran

• Multi-media user – mampu memahami berbagai macam format media
• Intermediary – memiliki pengetahuan yang baik terhadap sumber-sumber informasi dan kebutuhan pemakai
• Enabler – bersikap proaktif dalam mencari informasi yang dibutuhkan pemakai
• Metadata producer – mampu menciptakan sumber-sumber informasi dalam berbagai format dan media
• Communicator – mampu berkmonukasi dengan pemakai, baik secara formal maupun secara informal
• Team player – mampu bekerja dalam tim, termasuk tim TI dan akademisi
• Trainer / educator – mampu memberikan pengetahuan dan mengajarkan keahlian memperoleh informasi kepada pemakai
• Evaluator – mampu menentukan informasi yang bernas kepada pemakai
• Negotiator – melakukan pertemuan dan negosiasi dengan penerbit dan supplier
• Innovator – mampu secara aktif mengembangkan layanan perpustakaan
• Fund-raiser – mampu memperoleh atau meyakinkan lembaga induk untuk pendanaan perpustakaan

Keahlian
• Profesional
• Teknis dan TI
• Fleksibelitas
• Kemampun bekerja dalam tekanan
• Kemampun belajar cepat
• Komunikasi
• Negosiasi
• Presentasi
• Mengajar
• Bekerja dalam TIM
• Customer service
• Kemampun berpikir secara analitis dan evaluatif
• Spesialisasi Subject
• Memiliki Visi Apa yang dikemukan oleh Pinfield di atas masih sebatas kesiapan staf dalam menghadapi perpustakaan elektronik.

Sedangkan Rusbridge (1998) memberikan gambaran umum tentang perpustakaan elektronik tersebut seperti di bawah ini. Penerbitan elektonis Jurnal elektronik the Internet memainkan peranan penting Pre-prints & grey literature Kebanyakan tidak gratis Jaminan mutu kualitas bukan pilihan murah Digitisation and images digitisation mahal; ukuran gambar sangat tergantung dari penciptanya. Belajar mengajar On demand publishing & electronic reserve Masalah hak cipta Akses ke sumber-sumber informasi Akses ke jaringan informasi Kualitas adalah biaya, tetapi pemakai menghendaki kualitas Penyebaran dokumen Jasa baru sulit diterapkan; sementara system baru belum sepenuhnya mampu meningkatkan kualitas Supporting studies human systems resist change Pelatihan manusia, bukan teknologi Sementara sebagian besar kita (walau riset terhadap peran pustakawan di Sumatera Barat relatif tidak ada) masih dalam paradigma perpustakaan lama (konvensional), dimana pustakawan adalah “penjaga buku.” Disisi lain, seperti yang dijelaskan oleh kedua pakar tersebut bahwa pengembangan perpustakaan elektronik membutuhkan persayaratan-persayaratan tertentu. Kalau demikian, pertanyaannya adalah masihkah kita berhasrat mengembangkan perpustakaan elektronik? Sebenarnya apapun resikonya, pustakawan harus tetap optimis mampu mewujudkan perpustakaan elektronik. Di satu sisi, kemajuan TI harus dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemajuan jasa perpustakaan. Di sisi lain, perpustakaan yang sudah ada tidak perlu diberangus menjadi elektronik. Pustakwan tidak harus mengalihmediakan semua koleksinya ke dalam format digital karena membutuhkan biaya yang relatif mahal. Selain itu, pemakai belum tentu semuanya nyaman dengan media digital. Pustakawan tidak harus mem-publish semua koleksinya ke Pangakalan data Internet. Cukup koleksi tertentu saja. Pustakawan tetap mempertahankan perpustakaan konvensionalnya, namun diperkaya dengan jasa elektronis. Konsep ini lebih dikenal dengan perpustakaan hibrida.

Perpustakaan Hibrida
Mungkin bagi kita di Indonesia, istilah perpustakaan hibrida masih asing terdengar di telinga kita bila dibandingkan dengan istilah perpustakaan elektronik. Kita lebih sering mengenal istilah hibrida dalam bidang pertanian, khususnya tanaman, seperti kelapa hibrida. Padahal istilah tersebut sudah diperkenalkan sekitar sepuluh tahun yang lalu, tepatnya tahun 1998 oleh Chris Rusbridge. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan perpustakaan hibrida itu sendiri? Menurut beberapa sumber, seperti Rusbridge (1998); Breaks (2001) Oppenheim (2007); dan Wikipedia (2007); perpustakaan hibrida merupakan perpaduan antara perpustakaan konvensional dengan perpustakaan elektronik atau digital, dimana sumber-sumber informasi elektronis dan tercetak digunakan untuk mendukung satu dengan yang lainnya. Dengan kata lain, perpustakaan hibrida merupakan titik tengah antara perpustakaan tradisional dengan perpustakaan elektronik. Namun, pendapat ini terpecah menjadi dua, dimana satu pihak beranggapan bahwa perpustakaan hibrida hanya merupakan model pengembangan perpustakaan masa depan, sedangkan pihak lain beranggapan bahwa perpustakaan jenis ini merupakan tahap transisi sebelum suatu perpustakaan mengembangkan perpustakaan elektronik. Istilah perpustakaan hibrida lebih ditujukan pada cara perpustakaan melaksanakan fungsinya di masa yang akan datang, seperti yang banyak dilakukan oleh Negara-negara berkembang. Perpustakaan jenis ini dapat dikembangkan pada tingkat local, nasional, maupun internasional. Bahkan satu perpustakaan dapat berperan dalam tingkatan tersebut. Sebenarnya apabila dilihat, perpustakaan perguruan tinggi saat ini secara tidak sadar dan langsung telah mengembangkan sebuah konsep perpustakaan ini. Hanya saja hal itu masih kurang terasa dan terlihat berdiri sendiri-sendiri. Konsep perpustakaan hybrid ini tidak bisa dipisahkan. Artinya antara pengembangan resources dalam bentuk “tradisional” juga harus seimbang dan dipadukan dengan pengembangan resources “digital/ elektronik”. Dalam beberapa sumber disebutkan bahwa perpustakaan harus dapat memadukan antara sumber-sumber yang berupa buku dengan sumber-sumber yang dapat diakses secara elektronik/digital. Perpustakaan harus mengembangkan sebuah konsep layanan informasi yang terintegrasi. Jadi dalam perpustakaan hybrid ini, pengguna selain memanfaatkan koleksi yang tercetak juga dapat memanfaatkan koleksi yang dapat diakses secara elektronik atau virtual, baik melalui jaringan lokal maupun jaringan internet. Ada sinergitas antara koleksi tercetak dengan elektronik atau virtual, artinya konsep tradisional dan elektronik kedudukannya saling melengkapi satu dengan lainnya, tidak terpisah dan terintegrasi. Perpustakaan perguruan tinggi ke depan harus dapat menerapkan konsep perpustakaan hybrid ini secara lebih “benar” sehingga pengembangan perpustakaan lebih terarah dan tidak berdiri sendiri-sendiri dan terkesan hanya mengikuti trend belaka. Harapan Pemakai Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa apakah pemakai benar-benar telah membutuhkan layanan perpustakaan secara elektronik? Kalau benar, apa yang mereka inginkan dengan penerapan TI untuk perpustakaan? Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh HeadLine tahun 1998 terhadap harapan pemakai London School of Econimcs, The London Business School, dan University of Hertsfordshire dengan diterapkannya perpustakaan hibrida pada perpustakaan perguruan tinggi tersebut disimpulkan bahwa pemakai membutuhkan: 1. One stop shopping dan electronic full-text. Pemakai menginginkan sumber informasi yang mereka butuhkan tersedia dalam bentuk teks lengkap. Mereka tidak menghendaki perpustakaan hanya sekedar menyediakan cantuman bibliografi saja, sedangkan bentuk teks lengkapnya tersedia pada pangkalan data lainnya. 2. Mampu melakukan penelitian secara mandiri. Biasanya pemakai cendrung mengikuti dan mencari daftar pustaka yang ada pada suatu artikel atau dokumen yang sedang mereka baca. Mereka menghendaki link dengan sumber informasi tersebut. 3. Akses dari mana saja dan kapan saja. Pemakai tidak selalu betah belajar di perpustakaan. Mereka terkadang lebih suka menghabiskan waktu di rumah atau di mana saja untuk mengerjakan tugas-tugas yang sedang mereka kerjakan. Untuk ini, pemakai tentu harus memiliki seperangkat computer yang telah tersambung dengan internet. Jasa seperti ini sangat dibutuhkan oleh pemakai. 4. Nilai tambah. Pemakai sering membutuhkan informasi lanjut dari perpustakaan. Tidak semua pemakai suka bertanya langsung kepada pustakawan. Untuk itu, mereka membutuhkan sarana bertanya yang tersedia dalam format on-line atau lebih dikenal dengan FAQs (Frequently Asked Questions).

Langkah Awal
Berdasarkan harapan pemakai di atas, maka yang perlu dilakukan oleh suatu perpustakaan dalam mengembangkan perpustakaan hibrida antara lain: 1. Membangun pengakalan data Langkah pertama yang mesti dilakukan oleh perpustakaan adalah membangun pangkalan data bibliografi. Untuk itu, perpustakaan harus mengaplikasikan perangkat lunak khusus perpustakaan yang sesuai dengan standar penyelenggaran perpustakaan. Saat ini telah banyak beredar perangkat lunak khusus tersebut, seperti CDS-ISIS/Win-ISIS, SIAP, Caspia4Win, NCI Bookman, dll. Pangkalan data tersebut kemudian dapat dikembangkan dalam suatu jaringan yang digunakan oleh pemakai sebagai media penelusuran koleksi atau yang lebih dikenal dengan Online Public Access Catalog (OPAC). 2. Membangun jaringan Agar pangkalan data tersebut dapat dimanfaatkan oleh pemakai dan terhubung dengan bagian lain di perpustakaan, maka perlu dibangun jaringan lokal (LAN). Seberapa banyak titik (node) yang akan dibuat, sangat tergantung dari kebutuhan perpustakaan yang bersangkutan, misalnya jumlah terminal untuk OPAC, sirkulasi, dll. Selain jaringan local, perpustakaan harus membangun jaringan internet yang akan digunakan untuk mengakses informasi, mengembangkan jaringan kerjasama secara elektronis, baik local, nasional, maupun internasional. 3. Mengembangkan sistem peminjaman secara elektronis Pemakai, begitupun pustakawan sangat membutuhkan suatu sistem peminjaman yang cepat, tepat, dan akurat. Keinginan tersebut hanya dapat tercapai apabila perpustakaan telah menerapkan system peminjaman secara elektronis. Yang perlu dipahami adalah system peminjaman tersebut harus terintegrasi dengan system yang lainnya. Selain itu, seluruh koleksi perpustakaan atau koleksi tertentu harus diberi kode khusus yang dapat dibaca mesin pemindai atau yang lebih dikenal dengan barcode. 4. Merancang website perpustakaan Pemakai menginginkan akses dari mana saja dan kapan saja. Secara fisik, perpustakaan kesulitan membuka layanan perpustakaan 24×7. Namun, TI mampu menggantikan peran tersebut dengan membangun suatu website perpustakaan yang dapat diakses pemakai kapan saja dan dari mana saja. Pemakai dapat menelusur informasi apa saja yang dimiliki oleh perpustakaan, mengunduh (download) informasi tertentu dalam bentuk teks utuh, memesan koleksi, dll. Perlu diingat bahwa website yang dibangun harus terintegrasi dengan system yang telah dibangun sebelumnya. 5. Alihmedia (mengkonversi koleksi tertentu dari tercetak menjadi digital) Alihmedia merupakan pekerjaan yang membutuhkan waktu, biaya, dan tenaga yang cukup besar. Perpustakaan harus selektif melakukan alihmedia koleksinya. Untuk langkah awal, perpustakaan harus mempertimbangkan koleksi unik yang mereka miliki. Maksud unik disini adalah kemungkinan koleksi tersebut tidak semua perpustakaan memilikinya. Kesimpulan Perpustakaan hibrida merupakan masa transisi sebelum memasuki perpustakaan elektronik dengan melakukan digitalisasi sumber-sumber informasi, dan membangunan jaringan local dan internet. Pengembangan perpustakaan ini perlu direncanakan seoptimal mungkin agar harapan pemakai terhadap jasa perpustakaan yang cepat, tepat, ramah, dan mutakhir dapat terselenggara dengan baik. Seharusnya, pengembangan perpustakaan hibrida dilakukan oleh perpustakaan daerah, terutama penyediaan perangkat lunak yang dapat digunakan oleh seluruh perpustakaan yang berada di bawah binaannya, sehingga kerjasama antar perpustakaan akan lebih mudah terbangun.

Daftar Bacaan

Hampson, Andrew. The Impact of the Hybrid Library on Information Services Staff. Education On-Line. Centre for Information Research and Training, University of Central England. 14 January 1999. Sumber: http://www.leeds.ac.uk/educol/documents/00001266.htm. Diakses pada tanggal 08 August 2007

Holt, Glen E., Larsen Jens Ingemann, van Vlimmeren, Ton. Customer Self Service in the Hybrid Library. Bertelsmann Foundation. 2002. Diakses pada tanggal 08 August 2007

Michael Breaks. The eLib Hybrid Library Projects. Ariadne Issue. 28 22-June-2001. Sumber: http://www.ariadne.ac.uk/issue28/hybrid/intro.html. Diakses pada tanggal 08 August 2007

Nankivell, Clare. The Hybrid Library and University Strategy. Education On-Line. Centre for Information Research and Training, University of Central England. 16 January 1999. Sumber: http://www.leeds.ac.uk/educol/documents/00001267.htm. Diakses pada tanggal 08 August 2007

National Library of Scotland. Building The ‘Hybrid Library.’ 2000. Diakses pada tanggal 08 August 2007 Oppenheim, Charles and Daniel Smithson. What is the hybrid library? Loughborough University, UK. Sumber: http://jis.sagepub.com/cgi/content/abstract/25/2/97. Diakses pada tanggal 08 August 2007

Pinfield, Stephen …[et.al]. Realizing the Hybrid Library. D-Lib Magazine. October 1998. Sumber: http://dlib.ukoln.ac.uk/dlib/july98/rusbridge/07rusbridge.html. Diakses pada tanggal 08 August 2007

Rusbridge, Chris. Towards the Hybrid Library. D-Lib Magazine. July/August 1998. Sumber: http://www.dlib.org/dlib/july98/rusbridge/07rusbridge.html. Diakses pada tanggal 08 August 2007

Surachman, Arif. Perpustakaan Perguruan Tinggi menghadapi Perubahan Paradigma Informasi. Diakses pada tanggal 08 August 2007 Wikipedia. Hybrid library. http://en.wikipedia.org/wiki/Hybrid_library. Diakses pada tanggal 08 August 2007

A. Pendahuluan

Peran komputer dalam pengajaran bahasa terus mengalami perkembangan dari tahun ke tahun. Apabila awalnya hanya digunakan untuk drills dan latihan yang lebih memfokuskan pada penguasaan kosakata dan tatabahasa, tetapi dengan berkembangnya teknologi dan ilmu pendidikan memberikan peluang untuk mengintegrasikan teknologi komputer ke dalam proses belajar mengajar bahasa. Hasilnya saat ini dapat dilihat semakin banyaknya perangkat lunak multimedia dan program simulasi yang khusus untuk pengajaran bahasa. Siswa diberikan keadaan sesungguhnya terhadap apa yang sedang dipelajarinya. Beberapa perangkat lunak, seperti “Ticket” yang diproduksi oleh Bluelion Software merupakan program yang menyajikan situasi sesungguhnya dari budaya suatu Negara. Selain itu, perangkat lunak yang dikemas dalam bentuk permainan, seperti “Where in the World Is Carmen Sandiego?” oleh Broderbund Software atau “Trivial Pursuit” dari Gessler Publisher.

Permasalahan sebenarnya adalah, apakah teknologi informasi, terutama komputer mampu memberikan inovasi dalam pengajaran bahasa? Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Muehleisen (1997) menyaimpulkan bahwa pendapat para guru yang belum pernah menyentuh komputer akan mengatakan “tidak,” sebaliknya yang pernah akan mengatakan “ya.” Belisle (1996) membuktikan bahwa dengan menggunakan komputer, siswa menjadi lebih mampu memecahkan permasalahannya dan menjadi komunikator yang lebih baik. Melalui jaringan komputer, siswa memiliki kesempatan untuk berkolaborasi dan bekerja bersama dengan temannya dari kelas lain, kelompok, dan guru. Jaringan tersebut dapat membantu pembelajar menciptakan, menganalisa, dan memproduksi informasi dan ide-ide lebih mudah dan efisien. Selain itu, melalui akses elektronis tersebut, dapat meningkatkan kesadaran siswa dengan dunia di sekitar mereka.

Tidak diragukan lagi bahwa komputer merupakan media mengajar yang hebat, khususnya dalam pengajaran bahasa dalam berbagai aspeknya, seperti penguasaan kosakata, tatabahasa, komposisi, pronunciation, atau communicative skill lainnya. Berikut ini akan dipaparkan beberapa keuntungan dari penggunaan komputer untuk pengajaran bahasa.

1. Motivasi dan Ketertarikan

Disadari atau tidak, di dalam kelas, guru sering menyuruh siswa melakukan latihan secara berulang-ulang dengan harapan siswa dapat memahaminya. Namun, cara ini sering membosankan, dan membuat frustrasi yang pada akhirnya siswa tidak tertartik dan termotivasi untuk belajar bahasa asing. Program CALL menawarkan siswa dengan keasikan dan kesenangan. Program tersebut mengajarkan bahasa dalam cara berbeda dan lebih menarik, atraktif dan menyajikan pengajaran bahasa melalui game, grafis animasi dan teknik pemecahan masalah (Ravicahndran, 2007).

2. Individualisasi

Terkadang beberapa siswa membutuhkan waktu tambahan dan latihan secara individu untuk menguasai apa yang dipelajarinya. Komputer menawarkan cara belajar mandiri tanpa harus takut salah, malu, atau dimarahi guru. Cara ini dapat dilakukan siswa berulang-ulang sampai mereka memahami tujuan pelajaran tersebut. Dengan kata lain, komputer memberikan perhatian lebih individualistic kepada siswa untuk menjawab dan perintah-perintah yang diberikan.

3. Kesesuaian Cara Belajar

Siswa memiliki cara belajar yang berbeda-beda. Banyak siswa belajar merasa lebih efektif jika cara belajar yang diusung guru sesuai dengan cara pandang mereka. Masalah serius akan muncul bila ternyata guru lebih asik mengembangkan caranya sendiri tanpa mempertimbangkan apakah cara mengajar tersebut sesuai dengan cara belajar siswanya. Untuk itu, komputer dapat digunakan untuk mengadaptasi pengajaran menurut cara siswa secara individu.

4. Error Analysis

Pangkalan data komputer dapat digunakan oleh guru untuk mengelompokkan dan membedakan jenis-jenis kesalahan yang dilakukan oleh siswa dengan menghitung berapa banyak kesalahan itu terjadi. Kesalahan tersebut dapat dikelompokkan menurut tatabahasanya, penggunaan kata, atau penulisannya. Dalgish (1987) dalam Ravichandran (2007) menemukan bahwa orang Cina lebih cendrung tidak menggunakan article a/an dari pada the. Dalam hal ini, komputer dapat menganalisis kesalahan-kesalahan spesifik yang dibuat oleh siswa.

5. Pemandu

Pengolah kata (word-processor) dalam komputer merupakan program yang sangat efektif dalam memandu pengajaran, terutama dalam menulis. Kemampuan yang dimilikinya untuk membuat, dan memanipulasi teks dengan mudah merupakan keunggulan lain dari program pengolah kata. Program tersebut dapat dengan mudah memandu siswa dalam membuat paragraph, menentukan kesalahan pengetikan, dan pemilihan kata. Keuntungan yang diperoleh guru adalah bahwa guru tidak perlu mengontrol dengan penuh kesalahan yang dibuat oleh siswa karena komputer telah otomatis menjadi pemandu mereka.

B. Internet

Munculnya Internet dan penggunaan TIK yang telah secara luas mempengaruhi kehidupan manusia telah menciptakan peluang baru dalam bidang pengajaran bahasa. Karena hampir semua content yang tersedia dalam Internet berbahasa Inggris, para guru bahasa Inggris dapat dengan mudah mengakses berbagai macam bahan bacaan tanpa perlu bayar. Khususnya di Negara non-English, seperti Indonesia, dimana masih sulit mencari bahan bacaan yang relevan dan up to date, Web merupakan sumber informasi yang tak ternilai, baik dalam memperoleh bahan pengajaran, maupun untuk mengeksplorasi dunia hanya dengan mengklik mouse.

Dari sudut siswa, Muehleisen (1997) menyatakan bahwa siswa tertarik memanfaatkan Internet dengan tiga alasan. Alasan pertama, siswa memandang Internet sebagai trend dan ingin menjadi bagian darinya. Alasan kedua, siswa menyadari bahwa mayoritas informasi yang beredar di Internet adalah berbahasa Inggris, dan mereka mulai memahami istilah-istilah tertentu yang bermanfaat dalam penguasaan keahlian berbahasa Inggris. Alasan ketiga, Internet juga menawarkan pengalaman praktek berbahasa langsung dengan memberikan siswa pengalaman functional communicative yang akan mampu memotivasi mereka dalam menggunakan bahasa Inggris sehari-hari.

C. Alasan Penggunaan Internet dalam Kelas Bahasa Inggris

Banyak argumentasi yang dikemukan oleh berbagai penulis tentang manfaat Internet untuk pengajaran bahasa, terutama bahasa Inggris. Berikut ini akan dijelaskan alasan pentignya Internet untuk pengajaran bahasa Inggris:

1. Belajar menggunakan komputer dengan sendirinya dapat memotivasi untuk belajar bahasa Inggris. Berdasarkan pengalaman dari Muehleisen (1997) bahwa masih banyak siswanya yang belum mempu menggunakan komputer, tetapi ketika mereka diajarkan bagaimana pentingnya memahami komputer, rata-rata siswa akan tertarik dan ingin menguasainya.

2. Internet menempatkan bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional. Siswa dapat memahami bahwa mayoritas informasi yang beredar di Internet adalah berbahasa Inggris. Mereka juga menemukan bahwa mereka dapat menggunakan bahasa Inggris sebagai media untuk belajar berkomunikasi dengan orang lain di seluruh dunia, dan tidak hanya terbatas pada Negara yang berbahasa Inggris saja. Tentu saja siswa ingin berkomunikasi dengan native speaker, tetapi banyak dari siswa lebih ingin berkomunikasi dengan orang-orang dari Negara-negara lain.

3. Internet merupakan media interaktif. Walaupun siswa dalam taraf coba-coba dalam melakukan browsing di Internet, tetapi tanpa disadarinya mereka telah berpikir dan berusaha menggunakan istilah-istilah tertentu dalam bahasa Inggris, dan hasilnya dapat mereka peroleh seketika itu juga. Selain itu, hampir semua web site menyediakan alamat e-mail, sehingga siswa dapat mengajukan pertanyaan atau mengirim komentarnya.

4. Fasilitas untuk menggunakan Internet relatif mudah diperoleh. Di beberapa Negara maju, fasilitas Internet telah tersedia di labor komputer. Namun, kondisi yang sama belum sepenuhnya ada di Negara berkembang, seperti Indonesia. Hanya ada pada beberapa sekolah tertentu saja. Walaupun demikian, dengan perkembangan TIK saat ini, hampir di setiap sekolah telah memiliki labor komputer, namun belum terhubung dengan Internet. Padahal fasilitas itu dengan mudah diaplikasikan dengan menghubungkan komputer via telepon (telkomnet instant)

D. Komponen yang Dibutuhkan

1. Integration

Yang paling penting dalam program pendidikan bahasa Inggris harus terintegrasi, bukan merupakan program tambahan. Guru harus terlibat langsung dengan program tersebut, misalnya pemberian pekerjaan rumah dan interaksi kelas

2. Kemampuan Komputer

Siswa tidak selalu memiliki keahlian dalam menggunakan komputer, terutama dalam menggunakan Internet. Tetapi, berdasarkan pengalaman Trokeloshvili, (2007) siswa tidak harus memiliki keahlian khusus untuk menggunakan Internet. Dari 230 siswa yang diajarnya, hanya 3 orang yang memiliki e-mail, dan hanya 10 orang yang terbiasa menggunakan komputer. Lebih lanjut dijelaskan bahwa yang paling terpenting adalah mengajarkan langkah-langkah sederhana bagaimana menggunakan komputer dan Internet,

3. Keaktifan Guru

Guru harus aktif memotivasi siswa untuk memnggunakan Internet. Kalau perlu, guru harus membuat handout atau petunjuk menggunakan komputer dan Internet, terutama bagaimana menggunakan web browser atau mengirim e-mail.

E. Teknik Pengajaran Menulis dengan Bantuan Internet

Teknik pengajaran bahasa yang ditawarkan oleh Krajka (2007) sangat sederhana dan relatif lebih mudah untuk diterapkan di kelas. Krajka menawarkan tiga elemen dasar dalam pengajaran bahasa terutama menulis, yaitu website yang akan digunakan siswa untuk mencari informasi yang mereka butuhkan, e-mail yang akan digunakan untuk mengirim dan menerima informasi dari manapun juga, dan web publishing yang digunakan untuk menerbitkan karya siswa tersebut. Dari tiga elemen tersebut, Krajka telah melakukan serangkaian percobaan dan inovasi dalam pengajaran bahasa sebagai berikut:

1. A Letter to a Friend

Sebagai pengenalan aktivitas menulis surat ke sahabat, siswa diminta untuk mengakses www.mario.com/card.htn, suatu situs yang menyediakan kartu dan gambar animasi yang dilengkapi dengan musik, dll secara gratis. Aktivitas ini dianggap menyenangkan oleh siswa sewaktu mereka memilih kartu-kartu lucu, dan menulis beberapa baris kata kepada temannya. Setelah itu, mereke diharuskan mengirim kartu tersebut kepada temannya melalui e-mail. Persyaratan yang diharuskan oleh situs ini adalah siswa harus telah memiliki e-mail sendiri.

2. A Formal Letter

Sewaktu mengajarkan A Formal Letter, siswa diminta untuk mengunjungi situs World Wildlife Fund (http://www.panda.org/home.cfm). Di situs tersebut, siswa dapat membaca masalah-masalah yang terjadi di seputar dunia mereka, khususnya tentang spesies langka yang ada di muka bumi ini.

3. A Description of a Person

Siswa diminta untuk menggambarkan seseorang yang dipilih berdasarkan keinginanannya (bisa salah seorang teman sekelas, atau guru yang sangat mereka kenal). Kemudian siswa disuruh membuat tulisan pendek tentang orang tersebut. Tulisan tersebut dikirimkan kepada siswa lain melalui e-mail. Siswa yang menerima e-mail tersebut harus mampu menduga siapa yang dimaksud oleh si pengirim.

4. An Argumentative Essay (Berpasangan atau Berlawanan)

Siswa diberikan bacaan tertentu yang dianggap mampu memancing argumentasi siswa dan lebih mutakhir sesuai dengan tingkat pemahaman siswa. Bahan bacaan tersebut biasanya yang berhubungan dengan masalah remaja. Bacaan tersebut akan diranking oleh guru, baik dari sisi gramatikanya, kekayaan leksikalnya maupun isi bacaannya juga. Agar siswa lebih terbantu dalam menulis essay yang benar-benar sesuai dengan situasi sebenarnya, maka siswa diarahkan untuk mengakses situs Ohio University CALL Lab menyediakan topik-topik untuk essay dengan alamat http://www.ohiou.edu/esl/project/index.html. Siswa diminta untuk mengeksplorasi essay tersebut dan apabila ada argumentasi yang meragukan, siswa dapat mengakses informasi dari situs tersebut atau situs lain yang berhubungan dengan topik tersebut.

5. A Description of a Festival of Ceremony

Internet yang berdasarkan defenisi umum merupakan multi cultural dan tanpa batas, merupakan sumber informasi yang terbaik untuk mengetahui adapt istiadat dan kebiasaan Negara lain di muka bumi ini. Berselancar di Internet dan mengekplorasi tradisi dan kebudayaan atau upacara-upacara yang belum diketahui, seperti sama dengan menonton film, mendengar musik tradisional atau gambar-gambar yang dapat memberikan pengalaman yang tak terlupakan bagi siswa.

Untuk mendeskripsi suatu festival atau perayaan yang lebih otentik dan bermakna, siswa dibimbing untuk mengekplotasi potensi yang ada di WWW. Siswa diminta untuk memilih salah satu festival atau perayaan yang dapat mereka telusur di www.tourism.com. Siswa diharuskan menulis kembali festival atau perayaan yang mereka pilih dan dilengkapi dengan gambar-gambarnya.

6. A Newspaper Report

Telah dijelaskan sebelumnya, bila membicarakan penelusuran informasi melalui Web maka sudah seharusnya informasi yang dicari adalah informasi yang sedang terjadi atau yang sedang hangat dibicarakan. Surat Kabar on-line merupakan sumber informasi virtual terkini yang dapat diperoleh secara gratis. Untuk mengakses indeks surat kabar dari berbagai penjuru dunia dapat mengakses www.onlinenewspaper.com. Siswa diminta untuk mencari berita terkini dan membuat ringkasan dari berita tersebut, membaca tajuk utama dan meminta mereka untuk membuatnya menjadi suatu kalimat yang utuh, memprediksi dan merekonstruksi isi dari suatu artikel, membandingkan penyajian berita yang sama dari surat kabar Negara lainnya. Selain itu, siswa diminta untuk mengamati kejadian di sekelilingnya, dan kemudian menulisnya dalam bentuk berita.

7. A Description of a Place

Web merupakan tempat yang tepat untuk mencari tempat yang belum pernah diketahui sebelumnya. Untuk itu, siswa diminta untuk mengakses situs www.travel.com atau www.go.com. Siswa diminta untuk mendeskripsikan tempat yang ingin mereka kunjungi itu. Selain itu, siswa diharuskan membuat pertanyaan-pertanyaan mengenai tempat yang mereka kunjungi tersebut.

Hampir sama dengan konsep Krajka di atas, Tan (2007) mengusung perpaduan konsep Cooperative Learning dan Teknologi Informasi dengan teknik membaca K-W-L.

1. K – what I Know – guru memandu siswa untuk brainstorming dengan apa yang mereka ketahui dengan suatu topik dan bagaimana cara mereka memperoleh informasinya. Kemudian, guru membantu siswa untuk mengeluarkan ide-idenya ke dalam kategori-kategori yang lebih umum.

2. W- what I Want – Selagi siswa memikirkan topik dan kategori umum dari suatu informasi, mereka harus membuat pertanyaan-pertanyaan dari topik yang ingin mereka ketahui.

3. L – what I’ve Learned – Siswa membaca teks (cetak atau elektronik) untuk menemukan jawaban dari pertanyaan mereka. Selama membaca, siswa akan memperoleh pengetahuan baru dari apa yang telah mereka pelajari. Mereka akan terus mencari jawaban dari bacaan lain yang mereka cari sendiri.

Prosedur pelajaran yang dikembangkannya dibagi menjadi dua bagian, yaitu:

1. Pre-Writing

Pelajaran ini diawali dengan penjelasan guru ke siswa tentang suatu topik yang akan mereka pelajari, misalnya Endangered Animal. Masing-masing siswa menulis salah satu tema sebagai berikut:

(a) A day in the life on endangered animal

(b) My most memorable experience as a (nama dari suatu endangered animal, misalnya anak panda, dll)

(c) My most frightening experience as a (nama dari suatu endangered animal, misalnya harimau Sumatera, dll)

Setelah itu, guru menjelaskan bahwa mereka akan bekerja secara berpasangan untuk mencari informasi tersebut dan melakukan riset pada Web yang sesuai dengan topik dan nama binatang yang mereka setujui bersama. Selama riset, mereka diperkenankan untuk menelusur informasi yang relevan mengenai tempat, karakter, dan plot dari cerita yang mereka tulis. Setelah siswa memperoleh informasi tersebut, guru memilih salah satu endangered animal, misalnya harimau. Siswa disuruh untuk memberikan pendapatnya tentang harimau tersebut. Pendapat siswa tersebut diketik pada MS Word Document yang dipantulkan pada layar agar seluruh siswa bisa melihatnya. Keuntungan dari cara ini, guru dapat menghapus dan menyalin pendapat siswa tersebut secara langsung. Ketika siswa memberikan pendapatnya tentang harimau tersebut, guru membantu siswa untuk menyusun kembali ide-ide mereka ke dalam kategori-kategori tertentu, seperti:

(a) Physical Characteristics

(b) Natural Habitats

(c) Diet

(d) Social Habits (mating, Hierarchy, etc)

(e) Reasons why they are endangered

(f) Ways and efforts to save them

Guru kemudian menjelaskan bahwa kategori tersebut dapat dijadikan kata kunci untuk mencari informasinya di Internet. Pada tahap ini, siswa telah melangkah pada tahap K.

Dengan menggunakan Lembaran Strategi K-W-L per siswa, masing-masing anggota kelompok menggunakan kolom K untuk mencatat pengetahuan awal yang mereka peroleh. Masing-masing anggota membandingkan informasi yang mereka peroleh dan membuat pertanyaan-pertanyaan pada kolom W. Setelah itu, masing-masing anggota harus memutuskan pertanyaan-pertanyaan mana yang paling menarik untuk ditanyakan. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, kelompok lain dapat mencari jawabannya melalui Internet. Jawaban yang ditemukan tersebut, kemudian dibagi dengan pasangannya. Masing-masing pasangan akan mencari pasangan dari kelompok lain yang sama binatangnya. Guru memilih beberapa orang siswa untuk menyajikan temuan-temuannya ke depan kelas. Siswa juga diminta untuk menjelaskan pertanyaan mana saja yang masih belum terjawab. Pertanyan-pertanyaan yang tak terjawab tersebut harus dicari jawabannya oleh setiap siswa melalui Internet. Jawaban-jawaban dari pertanyaan tersebut dimasukkan pada kolom L.

2. Writing

Guru meminta siswa untuk membuat pekerjaan rumah dengan menulis kembali bagaimana cara mereka memperoleh informasi selama melakukan riset. Siswa diminta membuat esay dalam bentuk draft yang telah diketik dan dapat ditambah dengan gambar-gambar. Esay yang telah ditulis tadi, kemudian diperiksa oleh anggota kelompoknya dengan menambahkan komentar (pada MS Word menggunakan perintah Insert Comment atau dengan menggunakan kode warna).

F. Kesimpulan

Perlu diingat bahwa penggunaan komputer dalam pengajaran bahasa bukan dimaksudkan sebagai alternatif pengajaran bahasa, melainkan hanya sebagai alat untuk mengajarkan bahasa. Penggunaan komputer akan memperkaya pengajaran bahasa itu sendiri, apalagi dipadukan dengan pemanfaatan Internet. Dengan Internet, siswa tidak saja memperoleh “mainan” baru, tetapi juga dapat memperoleh informasi lebih otentik dan menarik. Namun yang paling penting adalah bagaimana guru dapat secara aktif menggali potensi siswa dan memanfaatkan teknologi informasi untuk mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan secara inovatif dan menarik.

Bahan Bacaan

Belisle, Ron. Let E-mail Software Do the Work: Time Saving Features for the Writing Teacher. The Internet TESL Journal, Vol. III, No. 6. June 1997. http://www.iteslj.org/Techniques/Belisle-Email.

ERIC Digest. Computer Assisted Writing Instruction. http://www.ericdigest.org/2007

ERIC Digest. Computer-Assisted Language Learning: Current Programs and Projects. http://www.ericdigest.org/1993/language.htm. 2007

Kelly, Charles. How to Make a Successful ESL/EFL Teacher’s Web Page. http://www. aitech.ac.jp/~ckelly. 2007

Krajka, Jarek. Using the Internet in ESL Writing Instruction. http://iteslj.org/ Techniques/Krajka-WritingUsingNet.html. 2007

Muehleisen, Victoria. Projects Using the Internet in College English Classes. http://www.waseda.ac.jp/faculty/96050/index-e.html. 2007

Ravinchandran, T. in the Perspective of Interactive Approach: Advantages and Apprehensions. Rediff homepages. 2007

Tan, Gabriel. Using Cooperative Learning to Integrate Thinking and Information Technology in a Content-Based Writing Lesson. http://iteslj.org/Techniques/Tan-Cooperative.html

Trokeloshvili, David A. and Neal H. Jost. The Internet and Foreign Language Instruction: Practice and Discussion. http://iteslj.org/Articles/Trokeloshvili-Internet.html. 2007

Warschauer, Mark. Computers and Language Learning: An Overview. http://www.gse. uci.edu/faculty/markw/overview.html. 2007


* Disampaikan pada Seminar & Lokakarya Pengajaran Bahasa Inggris Berbasis Teknologi Informasi yang diselenggarakan oleh TEFLIN

** Pemerhati Masalah Pengajaran Bahasa Inggris dan Teknologi Informasi

1. Komunikasi Ilmiah
Komunikasi adalah pertukaran informasi antara individu dengan menggunakan sistem sinyal tertentu, misalnya kata-kata yang diucapkan, gerakan, atau tulisan. Literatur ilmiah merupakan bagian dari mekanisme sosial dari ilmu dan komponen yang terpenting dari sistem komunikasi ilmiah (Mikhailov, Chernyi, Giliarevskii, 1984:147; Lievrouw, 1990:59). Beberapa peneliti, seperti Paisley (1984), Garvey (1979), dan Whitley (1989) mengatakan bahwa tanpa komunikasi, ilmu sebagai suatu aktifitas sosial tidak akan eksis.
Komunikasi ilmiah menurut Mikhailov, Chernyi, Giliarevskii (1984:39) adalah proses yang terkombinasi dari pemaparan, penyampaian dan penerimaan dari informasi ilmiah dalam masyarakat sosial. Proses ini membentuk mekanisme dasar terhadap eksistensi dan perkembangan ilmu. Crane (1972) dalam Swanson (1993:607) juga menekankan pentingnya peranan komunikasi ilmiah dan proses interaksi dan pengaruh sosial yang mendasari perkembangan ilmu.
Komunikasi ilmiah dapat dibedakan secara verbal, dengan saluran formal maupun informal, baik secara tulisan maupun lisan. Pertukaran informasi ilmiah melalui literatur ilmiah atau teknis merupakan proses formal dari komunikasi ilmiah. Pada umumnya komunikasi formal menggunakan media massa modern, seperti buku, majalah, surat kabar. Namun jenis ini, menurut beberapa ilmuwan, penyebarannya masih dianggap terlambat bahkan sering suatu informasi dianggap sudah usang oleh penggunannya. Dengan keberadaan media internet, pada batas-batas tertentu telah dapat mengurangi keterlambatan tersebut.
Selain melalui saluran formal, ilmuwan juga berkomunikasi menggunakan saluran komunikasi informal. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Rosenbloom dan Wolek terhadap 2.000 ilmuwan dan insinyur, sebagaiman dikutip oleh Mikhailov, Chernyi, Giliarevskii (1984:41) memperlihatkan bahwa sekitar 55% dari informasi ilmiah yang dibutuhkan oleh ilmuwan dan insinyur tersebut diterima melalui saluran informal (personal contacts). Crawford (1971) menginvestigasi komunikasi informal antar ilmuwan dalam bidang psikopisiologi. Dengan menggunakan teknik sosiometrik diperoleh kesimpulan bahwa sekitar 73% menggunakan saluran komunikasi informal, terutama invisible college.

2. Analisis dan Pengindeksan Subjek
Salah satu fungsi utama dari suatu sistem temu-kembali informasi adalah untuk mencocokan isi dari dokumen dengan permintaan pemakai. Isi dari dokumen yang ada pada suatu koleksi mesti dianalisa dan direpresentasikan sedemikian rupa agar dapat ditemukan kembali. Dengan kata lain, sistem tersebut harus menyiapkan suatu komponen dokumen untuk diorganisasikan menurut prosedur tertentu. Proses membangun komponen dokumen dengan memberikan pengenal (identifiers) terhadap dokumen tersebut disebut dengan pengindeksan. Sedangkan kegiatan pengindeksan yang didasarkan pada analisis konsep dari subjek dokumen disebut pengindeksan subjek (Chowdhury, 1999:56).
Kegiatan pengindeksan telah lama dilakukan secara intelektual oleh manusia. Walaupun dewasa ini, sistem pengindeksan secara otomatis dengan bantuan komputer telah berkembang, namun metode merepresentasikan isi dari dokumen dalam kegiatan analisis subjek tetap sama. Dalam pengelompokan subjek, tujuan dasarnya adalah menyusun dokumen menurut isi subjek dokumen tersebut. Hasil dari analisis konseptual tersebut direpresentasikan dengan bahasa buatan atau simbol notasi, misalnya Dewey Decimal Classification, Universal Decimal Classification, Library of Congress Subject Headings, Colon Classification, dll. Tetapi, dalam pengindeksan subjek yang bertujuan untuk mencocokan (match) isi dokumen dengan pemakai, subjek dokumen direpresentasikan dengan bahasa alami. Sistem yang menggunakan bahasa alami untuk menyiapkan entri indeks subjek dokumen antara lain Chain, PRECIS, POPSI, Relational Indexing, dll. (Chowdhury, 1999:56).
Salah satu permasalahan dalam proses pengindeksan subjek adalah dalam memilih kata kunci atau deskriptor yang tepat digunakan sebagai entri indeks. Agar kata kunci atau deskriptor tersebut konsisten digunkan sebagai entri indeks maka perlu suatu standar dalam pemilihan kata kunci yang paling tepat untuk direpresentasikan. Untuk dikembangkan suatu sarana yang menyediakan bahasa indeks yang baku, disebut bahasa terkendali, seperti thesaurus, classaurus, thesaurofacet, dll. Alat ini dapat membantu pengindeks dalam memilih istilah yang paling cocok untuk merepresentasikan subjek pada tahap pengindeksan dan membanttu pemakai dalam memilih istilah yang tepat dalam memformulasikan permintaannya.
Tingkat pengindeksan menurut Sulistyo-Basuki (1992:93) tergantung pada keperluan dan kebijakan suatu unit informasi. Pengindeksan mungkin mencakup hanya subjek utama atau disebut pengindeksan generik. Indeks jenis ini memiliki banyak acuan silang ganda, sedangkan klasifikasi umumnya lebih unik karena memfokuskan pada subjek utama dokumen. Pada umumnya pengindeksan mencakup semua subjek yang dicakup dalam dokumen, namun mengidentifikasi subjek-subjek tersebut dengan istilah umum saja. Hal ini disebut pengindeksan tingkat medium, biasanya mencakup sampai 10 deskriptor. Pada pengindeksan tingkat dalam, pengindeksan mencakup semua subjek dan mendeskripsi subjek tersebut dengan sejumlah besar deskriptor. Pengindeksan terinci mengindeks sejumlah seluruh teks, bahkan mengindeks kalimat demi kalimat. Pengindeksan jenis ini lazimnya digunakan untuk mengindeks dokumen penting yang sering digunakan, misalnya amar pengadilan.
3. Analisis Co-Word
Analisis co-word didasarkan pada analisis co-occurrence dari dua atau lebih kata kunci atau kata-kata yang terdapat dalam teks yang digunakan untuk mengindeks artikel atau dokumen lainnya (Todorov, 1990:292; Diodato, 1994:44; von Ungern-Sternberg, 1995:3). Analisis co-word ditujukan untuk menganalisis isi, pola dan kecendrungan (trend) dari suatu kumpulan dokumen dengan mengukur hubungan kekuatan istilah (term) (De Looze, Lemarie, 1997:271; Coulter, Monarch, Konda, 1998:1206; Horton, Coulter, Grant, 2000:1).
Kegunaan analisis co-word adalah untuk mengembangkan dan atau menyaring taksonomi suatu bidang ilmu. Beberapa kelompok peneliti, seperti Courtial, Cahlik, & Callon, 1994; Turner, Lelu, & Georgel, 1994; dan lain-lain dan pusat penelitan Eropa seperti The Centre for Sociology and Innovation di Paris, INIST di Nancy, The CWTS pada University of Leiden di Belanda dan University of Keele di Inggris terus mengaplikasikan teknik ini, bahkan mengkombinasikan dengan teknik lainnya. Sementara di Amerika Utara, analisis co-word telah diintegrasikan dalam sistem pendukung tingkat ilmu pengetahuan dalam masyarakat ilmiah (De Looze, Lemarie, 1997:271; Coulter, Monarch, Konda, 1998:1212).
Awal mula penggunaan analisis co-word adalah dalam bidang Computational Linguistics. Fenomena tersebut bisa dilacak dari karya 1) Lexicography of Hornby (1942) yang menghitung co-occurences pengetahuan, dan 2) Linguistics of De Soussure (1949) yang menggambarkan bagaimana persamaan dua bahasa berkorelasi dengan kemunculannya dalam bahasa. Kemudian, Firth (1957); Harris (1968) mengelompokan kata menurut menurut co-occurences dengan kata lain dan juga maknanya. Selanjutnya pada pertengahan tahun 1970-an, McKinnon (1977) mengkaji hubungan tema dalam novel Kierkegaard dengan menggunakan kemunculan pasangan kata. Metodologi yang digunakan merupakan langkah awal dalam mengekstraksi hubungan kata dalam suatu teks menurut kemunculan pasangan katanya. Perkembangan selanjutnya dari analisis co-word ditujukan untuk mengevaluasi perkembangan suatu bidang ilmu sebagaimana yang dilakukan oleh Michel Callon pada tahun 1979, 1983 dan 1986 (Peters dan van Raan, 2001:15)
Rip dan Courtial (1984) mengumpulkan artikel dalam jurnal bioteknologi selama periode 10 tahun. Artikel tersebut ditandai (coded) dengan kata kunci dan menganalisis relasi antara kata kunci untuk memperlihatkan koneksitas antara bidang dalam bioteknologi. Peters dan van Raan (1993) menggunakan analisis co-word untuk mengkaji bidang teknik kimia. Mereka menggunakan publikasi dari 10 jurnal terkemuka, publikasi dari 23 ilmuwan terkemuka, publikasi dari konferensi-konferensi penting. Matrik kemunculan dari kata-kata yang ada pada judul dan abstrak dipetakan dengan skala multi dimensional. Hasil pemetaan tersebut, kemudia dievaluasi oleh ahli dalam bidang tersebut.
De Looze, Lemarie (1997:267) menganalisa sekumpulan dokumen yang berhubungan dengan protein tanaman (plant proteins). Untuk mengelompokan pasangan kata pada satu dokumen dengan dokumen lainnya, mereka menggunakan suatu program perangkat lunak yang disebut Leximappe. Selanjutnya, program tersebut membentuk pasangan kata yang memiliki hubungan paling dekat . Menurut mereka, program ini memungkinkan kita untuk menempatkan kluster utama dari kata kunci sehingga data dapat dibaca kembali dan diinterpretasikan. Dari hasil penelitian yang mereka lakukan, diperoleh tiga bidang utama dari bioteknologi yaitu a) kegunaan protein, b) perlakuan enzim pada protein, dan c) aplikasi teknik genetika.
Coulter, Monarch dan Konda (1998:1206) melakukan penelitian empiris untuk mendemonstrasikan keefektifan analisis isi (content analysis) untuk memetakan bidang teknik perangkat lunak (software engineering). Dalam penelitian ini, mereka mengambil sejumlah besar publikasi yang berhubungan dengan teknik perangkat lunak dari tahun 1982-1994. Masing-masing publikasi tersebut dipresentasikan oleh deskriptor (istilah indeks) untuk menganalisa tema dan kecendrungan pada penelitian teknik perangkat lunak tersebut.
Untuk mendukung penelitian tersebut, mereka menggunakan suatu program perangkat lunak yang dikembangkan oleh Software Engineering Institute Carnegie Mellon University yang disebut dengan CAIR (Content Analysis and Information Retrieval).
Dari penelitian tersebut mereka menyimpulkan bahwa tema utama dari bidang teknik perangkat lunak, yaitu object-oriented programming yang terfokus pada software development. Sistem yang paling banyak digunakan, yaitu X-Windows, Microsoft Windows, Ada, C++ dan UNIX, sedangkan Pascal, Basic dan Cobol mulai jarang ditemukan.
Walaupun penelitian telah banyak dilakukan dan memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, namun menurut Leydesdorff (1997:418) bahwa “kata” akan bermakna bila berada dalam satuan utuh suatu kalimat. Berdasarkan pemikiran tersebut, ia menawarkan suatu pendekatan baru dalam menganalisis suatu perkembangan ilmu, yaitu dengan menghitung kemunculan kata secara bersamaan dari kalimat pertama dengan kalimat kedua, begitu seterusnya dalam satu paragraf. Kemudian menghitung kata yang muncul bersamaan dalam paragraf pertama dengan paragraf kedua dalam satu seksi (BAB). Namun kelemahan pendekatan ini, sebagaimana diakui oleh Leydesdorff lebih rumit dan membutuhkan waktu yang relatif lebih lama.

4. Analisa Data Multivariat (MDA)
Metoda analisa data multivariat dirancang untuk analisa data inferensial (confirmatory) atau deskriptif (exploratory) dari data kuantitatif. Menurut Tijssen (1992) dalam Spasser (1997:80), MDA secara deskriptif adalah metoda yang kaya dengan tampilan grafisnya yang memperlihatkan hubungan antar variabel yang sedang diselidiki. Selain itu, analisa secara deskriptif dapat memfasilitasi dan mengobservasi struktur data multidimensional yang komplek tanpa memerlukan pemilihan awal (pre-select) variabel atau nilai variabel.
Ada dua jenis metoda MDA yang biasanya menyajikan data bibliometrik multivariate untuk tujuan deskriptif, yaitu hierarchical cluster analysis (HCA) dan multidimensioanl scaling (MDS). Berikut akan dibahas kedua analisis tersebut.

4.1. Analisis Cluster
Analisis cluster merupakan teknik statistik yang digunakan untuk mengindentifikasi kelompok, atau cluster dari objek yang mirip dalam ruang multidimensi (Shaw dan Willett, 1993:449). Dengan kata lain, analisis cluster adalah suatu teknik yang secara otomatis menilai objek ke dalam kelompok yang belum diketahui berdasarkan penghitungan tingkat similarity di antara objek (Santoso, Tjiptono, 2001:334).
Aldenderfer dan Blashfield (1984) dalam Qin He (2001:4) mendefenisikan metode cluster sebagai suatu prosedur statistik multivariat yang dimulai dengan suatu kumpulan data yang berisi informasi tentang suatu sampel dari suatu entitas dan kemudian menyusun ulang entitas tersebut ke dalam kelompok yang relatif homogen. Kelompok yang dibentuk tersebut seharusnya memiliki tingkat asosiasi yang tinggi antara anggota dari kelompok yang sama dan tingkat asosiasi yang rendah antara anggota dari kelompok lain. Biasanya, analisis cluster digunakan karena ketertarikan seseorang dalam menemukan struktur yang belum diketahui dari suatu kumpulan objek. Struktur tersebut merupakan yang penting dalam merancang pengelompokan dari objek tersebut. Dalam analisis cluster tidak perlu mengidentifikasi kelompok terlebih dahulu pada waktu pengolahan. (Hasibuan, 1995:58).
Karena maksud dari analisis cluster adalah untuk menemukan struktur yang tersembunyi (hidden structure) dari suatu kumpulan objek, menurut Andenberg (1973) dalam Hasibuan (1995:58) ada dua kemungkinan yang akan terjadi dalam pengclusteran. Pertama, data tidak memiliki cluster. Hal ini terjadi bila pemilihan variabel sangat independen. Kedua, data hanya memiliki satu cluster karena variabel yang dipilih juga sangat independen atau collinear.
Tujuan dari analisis cluster menurut Aldenderfer dan Blashfield (1984) seperti dikutip oleh Qin He (2001:4) adalah digunakan untuk:
• Mengembangkan suatu tipologi atau klasifikasi;
• Menyelidiki skema konseptual untuk mengelompokan entitas;
• Membangun hipotesis melalui eksplorasi data, dan
• Menguji hipotesis.
Dalam bidang ilmu informasi, terutama dalam temu kembali informasi, metode cluster telah banyak digunakan (Ruocco, Frieder, 1997:933). Van Rijsbergen (1974); Larson (1991,1992); Hasibuan (1995) menyatakan bahwa analisis cluster sangat bermanfaat dalam kegiatan sistem temu kembali. Spasser (1997) Morris (2001); Vos (2001); dan Steinberg (2001) menngunakan analisis cluster untuk menentukan struktur dari literatur dari suatu bidang ilmu. Mereka menerapkan metode tersebut untuk mengelompokan dan mengekstrak makna dari dokumen yang ditelusurnya dalam bidang yang ditelitinya. Kemudian memetakan struktur dokumen tersebut dengan menggunakan teknik cluster dan MDS.
Analisis cluster pada prinsipnya digunakan untuk mereduksi data, yaitu proses untuk meringkas sejumlah variabel menjadi lebih sedikit dan menamakannya sebagai cluster. Analisis cluster dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu Hierarchical Cluster dan K-Means Cluster. Pengelompokan atau penggerombolan secara hirarki digunakan untuk sejumlah sampel (data) yang relatif sedikit. Sedangkan untuk data yang banyak (di atas 200 sampel) dapat digunakan K-Means Cluster (Santoso, Tjiptono, 2001:294). Sedangkan Hasibuan (1995) membedakannya menjadi hirarki dan non-hirarki.

4.2. Mengukur Similarity
Untuk mengelompokan dokumen dalam suatu koleksi dokumen, diperlukan menghitung tingkat hubungan antar dokumen tersebut. Untuk mengukur hubungan tersebut dapat menggunakan distance measure atau mengukur similarity antar dokumen. Pada dasarnya, memenimalkan distance akan memaksimalkan similarity. (Boyce, Meadow, Kraft, 1994:85). Prinsipnya, bila dua teks memiliki subjek yang berhubungan maka akan memiliki istilah klasifikasi yang mirip juga. Perhitungan similarity diukur menurut distribusi kemunculan kata, misalnya dua dokumen dikatakan mirip (similar) jika menggunakan kata yang sama.
Berikut ini akan dipaparkan teknik pengukuran yang digunakan untuk mengukur similarity:
Simple Matching : X  Y

Dice’s Coefficient : 2X  Y
X + Y

Jaccard’s Coefficient : X Y
X  Y

Cosine Coefficient : X Y
X½ x Y½

Overlap Coefficient : X Y
Min (X,Y)

Sumber: van Rijsbergen (1979) sebagaimana dikutip dari Hasibuan (1995:66)

Variabel X dan Y dalam figur tersebut merepresentasikan istilah indeks yang muncul dalam dua dokumen. Dalam penelitian ini digunakan pengukuran similarity simple matching. Menurut van Rijsbergen (1979) dalam Hasibuan (1995:67) kelemahan rumus ini adalah ketidaknormalan variabel dalam rumus tersebut. Koefisien dari hasil rumus ini adalah berdasarkan jumlah kata (istilah indeks) yang dimiliki bersama. Bila dokumen Di memiliki 10 kata kunci, dan dokumen Dj memiliki 1 kata kunci maka similarity antara dokumen Di dan Dj sama dengan 1.
Boyce, Meadow, Kraft (1994:88) mengatakan bahwa apapun ukuran similarity yang digunakan sangat tergantung dari tujuan penelitian. Dengan kata lain, tidak ada suatu ukuran yang lebih baik dibandingkan dengan ukuran yang lainnya.

4.3. Teknik Cluster
Hasibuan (1995:70) membagi teknik cluster menjadi dua kelompok utama, yaitu non-hirarki dan hirarki. Berikut akan dibahas kedua teknik tersebut.

4.3.1. Teknik Non-Hirarki
Teknik cluster non-hirarki membagi suatu kumpulan objek ke dalam beberapa cluster tetapi tidak memperlihatkan hubungan hirarki antar cluster (Willet, 1988:578). Teknik ini terkadang disebut juga sebagai metode cluster menyeluruh (heuristic clustering method). Terdapat 3 prosedur yang bisa digunakan dalam teknik ini.
Prosedur pertama adalah unsupervised, dimana tidak ada penentuan kelompok terlebih dahulu. Prosedurnya dimulai dari satu cluster besar dan kemudian dibagi secara otomatis menurut hasil perhitungan. Prosedur kedua adalah supervised, dimana jumlah kelompok ditentukan lebih dahulu untuk menentukan kedekatan setiap objek. Prosedur ketiga adalah prosedur hybrid. Prosedur ini merupakan gabungan dari kedua prosedur di atas. Bila sulit menentukan jumlah kelompok, maka digunakan prosedur unsupervised terlebih dahulu. Setelah diperoleh hasil cluster, kemudian dilakukan pendekatan supervised.

4.3.2. Teknik Hirarki
Teknik cluster hirarki dimulai dengan matriks similarity jarak antara pasangan objek. Teknik ini lebih berupaya mengelompokan objek berdasarkan kemiripan yang ada pada objek itu sendiri. Prosesnya yaitu membandingkan setiap pasang objek.
Ada beberapa teknik cluster hirarki yang dapat digunakan untuk menentukan similarity dari suatu objek, dimana masing-masing teknik memiliki rumus yang berbeda sehingga akan menghasilkan struktur cluster yang berbeda pula. Biasanya teknik cluster hirarki menghasilkan suatu dendogram atau diagram berbentuk pohon (tree-like). Beberapa teknik cluster hirarki tersebut yang secara luas telah digunakan, yaitu single-link, complete-link, average-link, dan Ward’s method (Hasibuan, 1995:74).
Teknik cluster hirarki yang pertama adalah metode nearest neighbor atau single-link. Metode ini dapat digunakan untuk mengukur similarity dan jarak. Kelompok-kelompok akan difusikan menurut jarak antara anggotanya yang terdekat. Dengan kata lain, kelompok yang memiliki jarak yang terkecil akan difusikan. Metode yang kedua adalah furthest neigbor atau complete likage. Metode ini kebalikan dari metode nearest neighbor, dimana jarak antara kelompok diartikan sebagai jarak antara pasangan individu yang terjauh. Metode yang ketiga adalah median. Bila kelompok-kelompok yang difusikan memiliki ukuran yang sama, maka posisi kemunculan kelompok yang baru akan selalu berada diantara kedua kelompok yang difusikan tersebut. Metode keempat adalah group avarage. Metode ini mengartikan jarak antara kelompok jarak rata-rata antara semua pasangan individu dalam dua kelompok. Kelima adalah Ward’s method. Metode ini mengartikan bahwa kehilangan informasi yang berasal dari pengelompokan individu-individu ke dalam cluster dapat diukur berdasarkan jumlah total dari simpangan kuadrat (squared deviations) (Qin He, 2001:11).

4.4. Skala Multi Dimensional (MDS)
Young (2001:2) mendefenisikan skala multidimensional sebagai suatu himpunan teknik analisis data yang menggambarkan suatu struktur “distance-like data” dalam bentuk gambar grafis. MDS berhubungan dengan pembuatan grafik (map) untuk menggambarkan posisi sebuah objek dengan objek yang lain, berdasarkan kemiripan objek-objek tersebut (Santoso, Tjiptono, 2001:322). Tujuan dari MDS adalah untuk mengurangi ruang objek menjadi dua atau tiga dimensi agar mudah dipahami dalam bentuk grafik, sehingga membantu seseorang untuk memutuskan kemiripan dari anggota suatu kumpulan objek. Newby (2001:6) mengatakan bahwa teknik MDS ditujukan untuk mengidentifikasi kecendrungan dari suatu kumpulan data tanpa perlu menentukan variabel bebas atau terikat. Schiffman et.al. (1981) dalam Boyce, Meadow, Kraft (1994:90) mengatakan bahwa MDS adalah alat matematika yang sangat berguna sehingga kita dapat merepresentasikan kemiripan dari suatu objek dalam bentuk peta.
Dalam skala yang sederhana hubungan antara pasangan objek divisualkan dengan garis. Hubungan antara dua titik dapat diperlihatkan dalam satu dimensi. Ide dari MDS adalah untuk menghasilkan dua atau tiga dimensi untuk merepresentasikan suatu n-dimensi agar sedapat mungkin mengurangi kehilangan informasi. Proses dasarnya adalah untuk memperlihatkan jarak dalam dua atau tiga dimensi. Jarak tersebut diurut dari terkecil ke terbesar. Jarak yang terkecil merupakan objek yang paling mirip dalam matrik similarity.
Walaupun jarak suatu objek dapat ditampilkan dalam dimensi yang diinginkan, namun bisa saja hanya memiliki sedikit hubungan. Untuk itu diperlukan mengukur hubungan tersebut yang disebut sebagai stress. Nilai stress 0,15 atau kurang merupakan nilai yang paling baik.
Kopsca dan Schiebel (1998:13) mengungkapkan bahwa untuk menganalisis struktur perkembangan penelitian dan teknologi yang menggunakan analisis co-word membutuhkan alat matematika dan perangkat lunak untuk merepresentasikan struktur yang akan dianalisa. Bila yang diolah hanya beberapa kata kunci maka dengan matrik sederhana dapat mengungkapkan struktur tersebut. Tetapi bila terdiri dari ratusan kata kunci maka perlu merepresentasikannya secara visual. Kopsca dan Schiebel (1998:13) mengusulkan bahwa struktur co-occurences dari kata kunci lebih jelas direpresentasikan dalam dua dimensi. Dengan kata lain, teknik skala multi dimensional dapat menampilkan struktur tersebut.
Morris (2001) memetakan ilmu pengetahuan bidang biomedical dengan menggunakan analisis co-word dan mengukur similarity dari kemunculan pasangan kata tersebut dengan menggunakan analisis cluster dan skala multi dimensional. Dari hasil analisis tersebut diperoleh dua bidang utama dalam pengetahuan biomedical, yaitu diagnostic imaging and imaging technique dan technique and system.
Vos (2001) meneliti literatur penelitian dalam bidang kesehatan, terutama yang berhubungan dengan obat-obatan. Literatur yang digunakan berasal dari bank data kesehatan MEDLINE (CD-ROM) selama periode waktu 1978-1990. Pasangan kata kunci dari literatur tersebut dianalis dengan menggunakan Jaccard indeks dan proximity indeks. Matrik yang dihasilkan dianalisis dengan menggunakan skala multidimensional. Menurut Vos (2001:2) teknik multivariat dapat menangani dan memetakan lebih banyak variabel dan hubungan. Oleh karena itu, sangat bermanfaat dalam mendeteksi perkembangan suatu bidang ilmu.
Hasil pemetaan yang diperoleh dari analisis skala multi dimensional tersebut disimpulkan bahwa penelitian mengenai efek samping dari reaksi obat memberikan kontribusi yang relatif sedikit terhadap bidang kesehatan.
Steinberg (2001) mengumpulkan literatur mengenai arsitektur komputer dari pangkalan data Inspec dari tahun 1981-1993. Untuk memperoleh matrik similarity digunakan inclusion indeks. Sedangkan untuk memetakan perkembangan pengetahuan bidang arsitektur komputer digunakan ALSCAL, skala multi dimensional. Matrik yang digunakan untuk mengolah data tersebut ke dalam ALSCAL digunakan matrik dissimilarity. Hasil pemetaan disimpulkan bahwa perkembangan pengetahuan dalam bidang arsitektur komputer sangat pesat dan solid.

5. Pemetaan
Spasser (1997:78) mengatakan bahwa peta adalah alat relasi (relational tools) yang menyediakan informasi antar hubungan entitas yang dipetakan. Peta tidak hanya merupakan alat yang praktis untuk menyampaikan informasi mengenai aktivitas ilmiah, tetapi juga sebagai dasar untuk mengkaji dan memahami aktivitas ilmiah dengan menggambarkannya sebagai suatu sistem yang tersusun.
Beberapa jenis peta yang dikembangkan dalam pemetaan ilmu pengetahuan dalam bidang bibliometrika, antara lain: peta jurnal intercitation, journal co-citation, document co-citation, author co-citation, co-word (deskriptor), dan co-classification.
Pemetaan co-word dilakukan melalui analisis kemunculan istilah yang dipakai bersama oleh suatu pasangan dokumen dengan melihat kata-kata yang dipakai secara bersama oleh suatu dokumen.

2.7. Kesimpulan
Dokumen sebagai media tempat menyimpan informasi memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi perkembangan ilmu dan teknologi. Namun, dengan semakin banyaknya penelitian yang dilakukan oleh peneliti maka semakin banyak pula dokumen yang tersedia. Dikuatirkan bila dokumen tersebut tidak diorganisasikan dengan baik maka kemungkinan akan tumpang tindihnya antara satu penelitian dengan penelitian lain bisa terjadi. Untuk itu diperlukan suatu pendekatan-pendekatan yang memungkinkan dokumen tersebut mudah diakses dan memberikan informasi mengenai perkembangan dari suatu disiplin ilmu.
Salah satu teknik yang dapat mengungkapkan perkembangan dari suatu disiplin ilmu, yaitu analisis co-words. Analisis ini didasarkan pada kemunculan berpasangan dari dua atau lebih kata kunci atau kata-kata yang terdapat dalam teks yang digunakan untuk mengindeks artikel atau dokumen lainnya. Untuk menganalisis struktur perkembangan penelitian dan teknologi yang menggunakan analisis co-words membutuhkan alat matematika dan perangkat lunak untuk merepresentasikan struktur yang akan dianalisa. Dengan demikian, hasil dari analisis co-words tersebut dapat direpresentasikan secara visual. Kopsca dan Schiebel (1998:13) mengusulkan bahwa struktur co-occurences dari kata kunci lebih jelas direpresentasikan dalam dua dimensi.
Metoda analisa data multivariat (MDA) secara deskriptif adalah metoda yang kaya dengan tampilan graafisnya. Ada dua jenis metoda MDA yang biasanya menyajikan data bibliometrik untuk tujuan deskriptif, yaitu hierarchical cluster analysis (HCA) dan multidimensional scaling (MDS). Analisis cluster merupakan tekni statistik yang digunakan untuk mengidentifikasi kelompok, atau cluster yang mirip dalam ruang multidimensi. Sedangkan skala multidimensional berhubungan dengan pembuatan grafik (map) untuk menggambarkan sebuah objek dengan objek yang lain, berdasarkan kemiripan objek-objek tersebut.
Gambar di bawah ini secara sederhana memperlihatkan proses pemetaan yang dilakukan dengan menggunakan MDA.

Kata kunci Co-occurances Simple matching Cluster similarity Cluster
tak-similatritas Pemetaan

Analisis Co-Word Analisis Cluster MDS

Gambar 1. Proses Pemetaan

Selamat Datang

Blog ini akan menginformasikan seputar ilmu informasi, perpustakaan, dan kebudayaan. Bagi Anda yang berminat berbagi informasi atau berita, silahkan bergabung di blog ini. Terima kasih